TERKINI
KULINER

Di Istanbul, Manisan Mirip Kue Khas di Aceh

ISTANBUL -  Turki memasuki peralihan musim dari musim panas ke musim dingin, di akhir Oktober 2016. Suhu sekira 17°Celsius. Saya tiba di Bandar udara Internasional…

LIPUTAN6 Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 1.1K×

ISTANBUL –  Turki memasuki peralihan musim dari musim panas ke musim dingin, di akhir Oktober 2016. Suhu sekira 17°Celsius.

Saya tiba di Bandar udara Internasional Ataturk di benua Eropa, pada 26 Oktober 2016.

Setelah berhasil mendapatkan visa, saya naik taksi dari Bandar udara itu melalui Jembatan Galata Menuju Hotel Doubletree Hilton di Moda, Kadekoy, Istanbul, belahan Asia. 

Begitu turun taksi, saya menggigil. Ini cuaca yang berlebihan bagiku. Di Banda Aceh, suhu normal bagiku 25-30. Itu ditambah, sejak kali kedua makan di pesawat antara Jakarta Istanbul, saya tidak sanggup makan, semuanya makanan Turki, berbahan dasar susu dan keju. Saya tidak dikabarkan bahwa kini musim dingin sehingga tidak membawa jaket.

Bukan cuaca saja yang menjadi masalah, tapi juga makanan.

Sampai sore waktu Turki, saya makan halva (halwa), manisan seperti haluwa di Aceh bagian utara, di pasar Kadikoy. Habis saya makan. 

Setelah itu naik feri ke Eminonu, makan ikan roti khas Galata, balik ekmek. Hanya setengah gulung balik ekmek saja sanggup makan.

Makan malam. Makan malam, saya harap ada perubahan. Kami diantar dengan bus ke villa bersejarah warisan Ottoman, sekira hampir satu jam perjalanan menusuri tepian Selat Bosporus sebelah Asia. Dingin kian mencengkeram. Makan malam yang mahal, hanya beberapa sanggup saya makan, terutama manisan yang mirip haluwa, keukarah, dan wajek. Sepulang ke hotel saya buka bungkusan yang dikasih penjaga hotel saat mendaftar, ternyata roti kacang yang agak sesuai lidah Aceh. Tapi saya tidak bisa kenyang, seharian itu.

Saya ke Istanbul menghadiri Konferensi Internasional Failed Coup and The Future of Civil Society in Turkey, di Faculty of Theology Marmara University, Uskudar, Istanbul, Turki, 27-28 Oktober 2016.

Diundang oleh Prof Hamza Kandur, wakil rektor Marmara University, untuk hadir ke acara sebagai pengurus LSM Antarbangsa, PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh – Turki). 

Juru bicara kepresidenan Turki, Prof Ibrahim Kalin, dan beberapa orang yang turut andil menentang kudeta 15 Juli 2016 turut bicara.

Termasuk laki-laki yang berbaring di hadapan tank dan perempuan yang menghadang tentara pengkudeta seorang diri.

Ada 64 NGO Internasional dan 10 NGO Turki yang hadir.[]

LIPUTAN6
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar