BIREUEN – Samalanga dikenal sebagai daerah perjuangan sejak dulu di mana tidak sedikit para pejuang dan ulama yang syahid dalam membela agama dan negaranya dari kaum penjajah. Wajah Samalangapun kini masih berstatus kampiumnya perjuangan modern di era globalisasi saat ini dengan gelar “kota santri”.
Betapa tidak kini dayah terbesar dan bahkan terbanyak berada di Samalanga.
Selain dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Dayah Ummul Aiman dan beberapad dayah lainya. Dayah Putri Muslimat pun sebagai salah satu dayah yang banyak pelajarnya dan uniknya di dayah tersebut khusus dididik sang bidadari surga saja alias santriwatinya
” Alhamdulillah kini dayah Putri Muslimat semakin berkembang dan maju terlebih dengan pelajarnya mencapai 3000 santriwati juga di didik oleh para tenaga pengajar senior dan berkualitas bahkan sudah menempuh pendidikan masternya,” pungkas Tgk. Fakhrurrazi Marzuki salah seorang Guru di dayah tersebut kepada redaksi portalsatu.com, Senin, 7/11/2016.
Beliau menuturkan pendidikan di dayah Putri Muslimat memberlakukan dikotomi sistem pembelajaran. Sekolah dan dayah memadukan dua sistem” Anak-anak di waktu pagi belajar kitab sebagai mana kurikulum di dayah tradisional begitu juga waktu malamnya. Sedangkan siang hari mereka belajar di bangku sekolah bahkan ada yang di bangku kuliah,” pinta akademika IAI Al-Aziziyah Samalanga dan motivator muda itu.
Namun uniknya menurut pengakuan beliau, biarpun sistem dikotomi di berlakukan, namun tidak sedikit mereka yang hanya belajar kitab saja dengan tidak menyambung pendidikan di bangku pendidikan formal ( SMP atau SMA/ kuliah)
“Dayah Putri Muslimat semakin hari terus berkembang dan pembangunanpun semakin banyak dengan gedung bertingkat dan sistem belajar yang sedikit maju di bandingkan dayah lain bahkan di sekitar Samalanga selain dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga,” ungkap Tgk. Marzuki M. Ali salah seorang tokoh masyarakat dan pakar pendidikan kota Santri tersebut.[]