LHOKSEUMAWE –  Danramil 16 Banda Sakti dan jajarannya ziarah ke makam pejuang Islam yang juga ulama Aceh Tengku Di Lhokseumawe di Desa Banda Masen, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, Selasa, 10 November 2015.

Amatan portalsatu.com,  ziarah itu juga diikuti personil Pramuka, Duta Wisata Aceh, dan masyarakat setempat. Saat ziarah itu juga dilakukan pembersihan dan pengecetan kompleks makam yang dilanjutkan membaca surat Yasin dan doa bersama.

Danramil 16 Banda Sakti Kapten Arm Gunawan Supriyanto, S.I.P., mengatakan kegiatan tersebut merupakan rangkaian memperingati Hari Pahlawan Nasional.

Menurut Kapten Gunawan, dengan momentum peringatan Hari Pahlawan Nasional (hari ini) sudah saatnya generasi bangsa untuk tetap mengabadikan hal-hal terkait sejarah perjuangan. Apalagi, Tengku Di Lhokseumawe merupakan seorang pejuang sekaligus ulama Aceh yang menghabiskan hidupnya untuk melawan penjajahan dari pihak luar.

“Ini merupakan bentuk penghormatan kami kepada beliau yang telah berjasa pada masanya, apalagi nama beliau telah diabadikan menjadi nama Kota Lhokseumawe,” ujar Kapten Gunawan.

Selain itu, kata Danramil Banda Sakti, dengan adanya kegiatan ini dirinya berharap masyarakat setempat terus melestarikan situs sejarah yang  mulai terbengkalai. Kata dia, penting melestarikan situs-situas sejarah untuk mengingat kembali generasi muda Aceh saat ini tentang jasa dan pengorbanan para pahlawan yang telah berjuang untuk kepentingan bangsa dan rakyat.

Mulhamadi Razali, Tengku Imum Desa Banda Masen kepada portalsatu.com mengatakan pihaknya berterima kasih kepada TNI dari Koramil Banda Sakti. Sebab, kata dia, dengan adanya kegiatan ziarah tersebut diharapkan ke depan lebih membangkitkan semangat masyarakat yang ingin melestarikan cagar budaya yang kini hampir terabaikan.

Dia berharap masyarakat Lhokseumawe mempelajari sejarah agar mengetahui bahwa di kota ini ada seorang pejuang Islam yaitu Teungku Di Lhokseumawe. 

Informasi dari masyarakat setempat, Tengku Di Lhokseumawe menjadi syuhda dalam perang pada abad ke-14 (1398). Teungku Di Lhokseumawe juga dianggap sebagai ulama yang membangun pusat kota Lhokseumawe kuno di sepanjang Sungai/Kanal Cunda. Kawasan ini dijadikan sebagai kota pelabuhan dan pelayaran para mualim (navigator/pelayar) Kerajaan Samudera Pasai abad ke-13 dan 14.[]