TERKINI
GAYA

Dalail Khairat

Isi dalail berupa doa-doa dan seulaweut (salawat) Nabi saw. dan biasanya telah dibukukan sebagai pedoman bagi peserta dalaé.

M FAJARLI IQBAL Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 2K×

Kesenian Aceh yang satu ini hingga kini masih lestari. Di kampung-kampung, masyarakat, terutama pemuda, menjadwalkan secara khusus kegiatan ini. Umumnya sering dilaksanakan pada malam hari.

Dalail khairat, begitulah namanya. Dalail berasal dari bahasa Arab dan menurut beberapa literatur, telah hadir di Aceh setelah Islam masuk ke Aceh. Dalam bahasa Aceh, dalail sering diterjemahkan dalaè. Ini karena tidak ada kosakata bahasa Aceh yang pelafalannya diakhiri dengan il, misalnya Ismail mejadi ma-è. Dalail dapat dilekati meu- sehingga jadilah meudalaé ‘kegiatan ber-dalail’.

Isi dalail berupa doa-doa dan seulaweut (salawat) Nabi saw. dan biasanya telah dibukukan sebagai pedoman bagi peserta dalaé. Meski telah dibukukan, doa-doa dan seulaweut itu beberapa bagiannya telah dapat dihafal dengan baik sehingga dalam praktiknya buku-buku itu jarang digunakan.

Sebagai sebuah kesenian Aceh, dalail khairat bertujuan memberikan hiburan kepada yang punya hajat, selain sebagai media dakwah kepada penonton.

Kesenian ini umumnya berlangsung pada malam hari di meunasah atau musala, bahkan ada juga dilaksanakan di rumah warga yang mempunyai hajat. Pelaksanaannya lazim dilakukan pada malam Jumat atau malam yang dipilih terkait dengan syiar agama Islam.

Selain untuk hajat, dalail juga menjadi wadah berkumpulnya para pemuda  dan tetua gampông. Dengan kata lain, dalaé menjadi tempat para pemuda dan tetua itu saling bersilaturahmi untuk memperkokoh persatuan.

Dalaé dipimpin oleh dipimpin oleh seorang syaikh, biasanya orang tua. Pesertanya adalah laki-laki, anak muda dan orang tua. Mereka duduk dengan sopan sambil memegang buku dalaé.

Bacaan-bacaan ketika dalaé adalah syair yang berupa doa-doa puji-pujian kepada Allah serta para nabi. Selain bahasa Arab, dalam dalaé juga digunakan bahasa Aceh.

Dalaé umumnya dilakukan secara terpisah tanpa menyatukan dengan kegiatan lain. Namun demikian, di beberapa daerah kesenian itu juga dipadukan dengan kegiatan lain, seperti mengaji bersama. Dalam hal ini kegiatan mengaji lebih dulu dilakukan. Baru kemudian diakhiri dengan dalaé bersama. []

M FAJARLI IQBAL
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar