Kesenian Aceh yang satu ini hingga kini masih lestari. Di kampung-kampung, masyarakat, terutama pemuda, menjadwalkan secara khusus kegiatan ini. Umumnya sering dilaksanakan pada malam hari.
Dalail khairat, begitulah namanya. Dalail berasal dari bahasa Arab dan menurut beberapa literatur, telah hadir di Aceh setelah Islam masuk ke Aceh. Dalam bahasa Aceh, dalail sering diterjemahkan dalaè. Ini karena tidak ada kosakata bahasa Aceh yang pelafalannya diakhiri dengan il, misalnya Ismail mejadi ma-è. Dalail dapat dilekati meu- sehingga jadilah meudalaé kegiatan ber-dalail.
Isi dalail berupa doa-doa dan seulaweut (salawat) Nabi saw. dan biasanya telah dibukukan sebagai pedoman bagi peserta dalaé. Meski telah dibukukan, doa-doa dan seulaweut itu beberapa bagiannya telah dapat dihafal dengan baik sehingga dalam praktiknya buku-buku itu jarang digunakan.
Sebagai sebuah kesenian Aceh, dalail khairat bertujuan memberikan hiburan kepada yang punya hajat, selain sebagai media dakwah kepada penonton.
Kesenian ini umumnya berlangsung pada malam hari di meunasah atau musala, bahkan ada juga dilaksanakan di rumah warga yang mempunyai hajat. Pelaksanaannya lazim dilakukan pada malam Jumat atau malam yang dipilih terkait dengan syiar agama Islam.