TERKINI
NEWS

Dahsyatnya Dua Kali Banjir Bandang Melanda Aceh Tenggara 2005

BANDA ACEH – Banjir bandang kembali melanda Aceh Tenggara, 11 April 2017. Banjir besar sudah berulang kali terjadi di kabupaten terletak di sebuah lembah yang…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 7 menit
SUDAH DIBACA 1.7K×

BANDA ACEH – Banjir bandang kembali melanda Aceh Tenggara, 11 April 2017. Banjir besar sudah berulang kali terjadi di kabupaten terletak di sebuah lembah yang diapit Gunung Leuser dan Bukit Barisan itu.

Tahun 2005 silam, dua kali air bah menyapu Aceh Tenggara pada April dan Oktober. Banjir bandang pada pertengahan Oktober 2005 menerjang Kecamatan Semadam dan menewaskan belasan orang. Sebelumnya, akibat banjir pada April 2005 yang menimpa Kecamatan Badar juga menewaskan belasan orang. Kecamatan Semadam kembali mengalami bencana dahsyat tersebut pada April 2017.

April 2005

Dikutip dari downtoearth-indonesia.org, banjir bandang yang melanda Aceh Tenggara pada 26 April 2005 menewaskan setidaknya 19 orang serta melukai puluhan lainnya. Banjir yang membawa batu-batu dan kayu, menghancurkan rumah-rumah penduduk saat sebagian besar warga tengah tidur. Desa Lawe Gerger, Lawe Mengkudu, dan Lawe Lak-Lak adalah yang terparah diterjang banjir.

Laporan menyebutkan jumlah korban meninggal 19 atau 20 orang. Jumlah rumah hancur cukup banyak. Beberapa jalan hancur dan tak dapat dilalui. Banjir tersebut menghantam saat terjadi hujan deras yang menyebabkan Sungai Alas meluap. Menurut Walhi, penggundulan hutan telah terjadi begitu hebat pada daerah aliran sungai. Penduduk setempat telah lama mengkhawatirkan ancaman banjir, tetapi pemerintah daerah disebut tidak pernah menanggapi secara semestinya.

Data Walhi Aceh menunjukkan dari tahun 2002-2004 terdapat 799 peristiwa banjir karena meluapnya sungai di Aceh, yang disebabkan penggundulan hutan. Organisasi ini mencatat lima laporan peristiwa tanah longsor besar dan banjir bandang di Aceh sejak bencana tsunami, ditambah angka total 143 kejadian sejak tahun 2000. (Selengkapnya baca: downtoearth-indonesia.org)

Melansir tempo.co, 27 April 2005, banjir melanda tiga desa di Kecamatan Badar, Aceh Tenggara, 26 April 2005, menjelang tengah malam. Belasan orang meninggal, dan 30 orang luka-luka di Desa Lawe Mengkudu, Desa Lak-lak, dan Desa Lawe Ger-Ger.

Daerah yang terparah adalah Desa Lawe Mengkudu. Puluhan rumah penduduk di sana hancur disapu air bah dari gunung. Penduduk Desa Lawe Mangkudu, Syahbidun menyebutkan, saat air bah turun dari gunung itu melanda desa mereka, masyarakat panik. “Karena malam hari kami tidak menyangka ada banjir,” kata dia.

Dia mengatakan, air menerjang dengan ketinggian tiga meter. Air menggulung bebatuan dan kayu-kayu gelondongan selama setengah jam. Air surut dan mengalir ke Sungai Alas, sungai terbesar di Aceh Tenggara.

Melansir gatra.com, 28 April 2005, salah seorang korban yang selamat dari musibah banjir di Desa Lawe Mengkudu menjelaskan, sekitar pukul 22.30 WIB (26 April 2005), ia sedang menonton siaran televisi di salah satu warung sekitar 500 meter dari rumahnya.

Saat itu, kata dia, sebelum datangnya air bah terdengar suara gemuruh yang berasal dari gunung yang berada di sebelah barat desa mereka. Kemudian terlihat air bercampur lumpur dan batang kayu yang datang, menggulung rumah warga termasuk rumahnya, hingga menyebabkan seluruh keluarganya meninggal, termasuk anak dan istrinya.

Saat itu, dia dan ratusan warga lain yang berhamburan keluar rumah tidak bisa berbuat banyak, kecuali hanya bisa menjerit dan menangis menyaksikan rumah mereka digulung longsor serta membawanya ke Sungai Lawe Alas kemudian menghanyutkannya.

Akibat bencana ini, hubungan darat dari Kutacane, Aceh Tenggara ke Gayo Lues saat itu putus total.

Oktober 2005

Dikutip dari wikipedia.org, banjir bandang melanda Kecamatan Semadam (atau Seumadam), Aceh Tenggara, 19 Oktober 2005 dan menewaskan setidaknya 12 orang. Sebelumnya, sekitar tahun 1980-an, pernah terjadi pula banjir bandang serupa yang menewaskan puluhan orang dan menyebabkan kerugian material sangat besar. Kecamatan Semadam terletak sekitar 10 km dari Kutacane, Ibu Kota Kabupaten Aceh Tenggara.

Melansir detik.com, 19 Oktober 2005, banjir dan longsor yang terjadi di Aceh Tenggara, 18 Oktober 2005, menyebabkan ribuan warga enam desa di Kecamatan Semadam terpaksa mengungsi ke sejumlah tempat. Pada 19 Oktober 2005, para pengungsi sudah memenuhi tiga tempat, yakni Stadion Haji Syahadat dan Gedung Olahraga di Jalan Manunggal, Kutacane, serta Bandara Alas Leuser.

Mereka juga menempati lapangan-lapangan dan mendatangi rumah-rumah penduduk yang merupakan keluarganya. Para pengungsi, terutama berasal dari enam desa yang menjadi korban, yakni Desa Titi Pasir, Kebon Sere, Kampung Baru, Lawe Beringin, Semadam Awal dan Semadam Asal. Banjir dan longsor mengakibatkan rumah rusak cukup banyak.

Melansir liputan6.com, 19 Oktober 2005, banjir bandang menghancurkan lima desa di Aceh Tenggara, 18 Oktober 2005. Jumlah rumah hancur cukup banyak, sehingga ribuan penduduk terpaksa mengungsi. Berdasarkan pantauan dari udara saat itu, sebagian besar jalan tertutup lumpur cukup tebal. Jalan utama yang menghubungkan Kutacane dengan Medan, Sumatera Utara juga belum bisa dilalui kendaraan roda empat. Kawasan permukiman di lima desa tak ubahnya seperti daerah aliran sungai.

Menurut kesaksian warga, banjir bandang terjadi pada 18 Oktober 2005, sekitar pukul 22.00 WIB. Ratusan rumah penduduk hancur diterjang banjir bandang. Lima desa di Kecamatan Simpang Semadam, yakni Desa Simpang Semadan, Semadan Awal, Desa Lawe Beringin, Semadan Asal, Titi Pasir, hancur.

Dikutip dari ampl.or.id yang memposting berita Media Indonesia, 27 Oktober 2005, banjir bandang kembali melanda permukiman padat di Kecamatan Semadam, Aceh Tenggara, 18 Oktober 2005. Kali ini, banjir bandang datang bertubi. Pertama, sekitar pukul 22.00 WIB, setelah warga usai menjalankan ibadah tarawih, air datang dari lereng Lauser. Empat jam kemudian, banjir bandang besar datang. Diikuti batu-batuan dan kayu gelondongan serta pepohonan yang berasal dari lereng Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Banjir ketiga datang tiga hari kemudian.

Bencana itu menyebabkan sekitar 500 rumah di lima desa rusak parah. Kelima desa itu, yakni Titi Pasir, Semadam Awal, Simpang Semadam, Lawe Beringin Gayo, dan Lawe Tua. Sebanyak 20 jiwa menjadi korban, dan 2.000 orang mengungsi. Di Desa Lawe Beringin Gayo 10 orang tewas, Simpang Semadam (7), Semadam Awal (1), dan Lawe Tua (1), dan Titi Pasir (1). Mereka meninggal dunia karena tidak sempat melarikan diri akibat banjir bandang datang secara tiba-tiba.

Sedikitnya 200 hektare (ha) lahan pertanian hancur. Lahan sawah di Simpang Semadam tertimbun tanah dan sebagian besar dipenuhi kayu gelondongan. Sedangkan fasilitas umum yang rusak di antaranya tempat ibadah, gedung sekolah, dan puskesmas.

Banjir bandang itu menyisakan derita buat para korban. Pada 25 Oktober 2005, sekitar 40 orang korban luka-luka masih berbaring di Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Dokter Sahuddin di Kutacane. Sebagian besar korban mengalami luka akibat terkena kayu gelondongan yang digulung banjir. Lima orang di antaranya patah tulang.

Banjir bandang yang berdampak terhadap ribuan jiwa itu sebenarnya telah diidentifikasi tim Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh. Informasi dan peringatan dini telah diberikan Walhi kepada Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) Aceh Tenggara sejak beberapa bulan sebelumnya. Menurut pihak Walhi, identifikasi ini dilakukan sebagai bagian respons bencana banjir yang terjadi sebelumnya.

April 2017

Banjir bandang kembali menimpa Aceh Tenggara, 11 April 2017, pukul 18.00 WIB. Banjir besar tersebut membawa material lumpur dan kayu-kayu menimbulkan korban jiwa dan kerusakan.

Keterangan dilansir bnpb.go.id, 12 April 2017, banjir tersebut berlangsung secara cepat. Terdapat delapan desa di dua kecamatan yang terdampak langsung banjir bandang, yaitu Kecamatan Semadam meliputi Desa Suka Makmur dan Desa Lawe Beringin. Sedangkan di Kecamatan Lawe Sigala-Gala melanda Desa Lawe Rakat, Lawe Kesumpat, Batu Dua Ratus, Lawe Sigala Barat, Kayu Mbelin, dan Lawe Tua Gabungan.

Berdasarkan data sementara dari Posko Tanggap Darurat BPBD Aceh Tenggara dilaporkan dampak banjir bandang menyebabkan dua orang meninggal dunia yaitu Boru Panjaitan (80 tahun) dan Terang Panjaitan (18 bulan) yang hanyut akibat banjir. Satu orang masih dalam pencarian, sedangkan tiga orang yang hanyut sudah berhasil ditemukan dalam kondisi pingsan. Ribuan masyarakat terdampak banjir bandang.

Sebanyak 298 rumah mengalami kerusakan yaitu 127 unit rumah rusak berat, 91 unit rumah rusak sedang, dan 80 unit rumah rusak ringan. Daerah yang paling parah terdampak banjir bandang adalah Desa Suka Makmur Kecamatan Semadam, 31 rumah rusak berat, 20 rumah sedang dan 15 rumah rusak ringan. Sedangkan di Desa Kayu Mbelin Kecamatan Lawe Sigala-Gala terdapat 29 rumah rusak berat, 41 rumah rusak sedang.

Melansir republika.co.id, sebanyak 648 kepala keluarga masih mengungsi di tempat ibadah di Desa Lawe Tua, Kecamatan Lawe Sigala Gala, akibat bencana banjir bandang itu. “Hingga Jumat pagi tercatat 648 KK atau 2.476 jiwa masih berada di posko pengungsian di satu gereja di Desa Lawe Tua,” kata Koordinator Pos SAR Kutacane, Risky Hidayat di Kutacane, Jumat, 14 April 2017.

Dia menyebutkan sebanyak 2.000 jiwa penduduk berasal dari lima desa yang terletak di lereng pengunungan kawasan ekosistem Gunung Leuser. Lima desa itu, yakni Lawe Sigala Barat tercatat 66 KK atau 180 jiwa, Kayu Belin 80 KK atau 220 jiwa, Lawe Tua Persatuan 146 KK atau 568 jiwa, Desa Lawe Tua Gabungan 159 KK atau 608 jiwa, dan Desa Lawe Sigala Timur 195 KK atau 900 jiwa.

“Tempat tinggal mereka diterjang banjir bandang. Bencana itu diikuti berbagai material yang turun dari atas gunung seperti kayu gelondongan, bebatuan, pasir, dan lumpur,” katanya.

Wilayah Aceh Tenggara memiliki 16 kecamatan dengan 385 desa, dan 282 desa di antaranya berada di lembah dan 103 desa terletak di lereng pengunungan. Kabupaten ini merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian 25 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut, dan dikelilingi Taman Nasional Gunung Leuser dan Bukit Barisan.[](idg)

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar