Dawod di Ujung Kampung, ialah seorang pemuda dari kampung yang tidak diketahui namanya. Awalnya ada nama kampung itu, kemudian diganti, lalu penduduknya pergi pada suatu musim, saat ladang tidak bisa ditanami dan sawah mengering. Tidak ada mata air di sana.
Pada suatu ketika, setelah perang usai, beberapa kelompok orang dari Barat yang merantau mencari tanah baru pun singgah dan menetap di sana. Kampung itu tidak diberi nama. Salah satu keturunan dari para pendantang itu bernama Dawod, tinggal di Ujung Kampung.
Si Dawod ini orangnya suka menuruti segala aturan dan sesekali suka melanggarnya. Ia, senantiasa setiap hari pergi ke sekolah dan tempat mengaji, berjalan kaki sejauh empat kilo meter. Seorang diri. Sepanjang jalan itu, ia melangkah denan penuh harapan. Pohon-pohonan dan suara burung, atau sesekali tupai dan lutung melompat di antara dahan-dahan pohon, menjadi hiburannya setiap hari, selama beberapa tahun itu.
Para guru dan kawan-kawan menyukainya. Ia baik hati, rajin, dan ramah, cepat memahami semua pelajaran, dan taat beribadah.
Setelah tamat sekolah dasar, ia ingin dimasukkan ke sekolah ternama di kota itu, Kota Kaya. Namun, itu tidak terjadi. Ayahnya yang petani kecil, tidak memiliki apapun untuk bisa mengirimnya ke sekolah lanjutan di kota itu, yang namanya diketahui sampai ke langit tujuh.
Beberapa kawan si Dawod di Ujung Kampung ini telah dimasukkan ke sekolah yang mereka sukai, walaupun nilai tidak memadai, namun para guru dan sekolah itu berbaik hati kepada orang yang membara lembaran uang banyak. Sementara si Dawod di Ujung Kampung tidak punya itu, walaupun nilainya cukup.
Setelah setahun dua tahun tidak melanjutkan sekolah, akhirnya si Dawod di Ujung Kampung didaftarkan di sebuah sekolah yang baru beberapa tahun dibuka, sekolah yang pada awalnya didirikan bagi anak-anak yang tidak sanggup sekolah ke pusat Kota Kaya atau sekolah lain yang telah bernama. Orang-orang yang bersekolah di sana, sebagian besar yang telah beberapa tahun tidak sekolah.