TERKINI
CITIZEN REPORTER

[CERPEN] Si Dawod di Ujung Kampung di Kota Kaya

Dawod di Ujung Kampung, ialah seorang pemuda dari kampung yang tidak diketahui namanya. Awalnya ada nama kampung itu, kemudian diganti, lalu penduduknya pergi pada suatu…

LIPUTAN6 Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.2K×

Dawod di Ujung Kampung, ialah seorang pemuda dari kampung yang tidak diketahui namanya. Awalnya ada nama kampung itu, kemudian diganti, lalu penduduknya pergi pada suatu musim, saat ladang tidak bisa ditanami dan sawah mengering. Tidak ada mata air di sana.

Pada suatu ketika, setelah perang usai, beberapa kelompok orang dari Barat yang merantau mencari tanah baru pun singgah dan menetap di sana. Kampung itu tidak diberi nama. Salah satu keturunan dari para pendantang itu bernama Dawod, tinggal di Ujung Kampung.

Si Dawod ini orangnya suka menuruti segala aturan dan sesekali suka melanggarnya. Ia, senantiasa setiap hari pergi ke sekolah dan tempat mengaji, berjalan kaki sejauh empat kilo meter. Seorang diri. Sepanjang jalan itu, ia melangkah denan penuh harapan. Pohon-pohonan dan suara burung, atau sesekali tupai dan lutung melompat di antara dahan-dahan pohon, menjadi hiburannya setiap hari, selama beberapa tahun itu.

Para guru dan kawan-kawan menyukainya. Ia baik hati, rajin, dan ramah, cepat memahami semua pelajaran, dan taat beribadah.

Setelah tamat sekolah dasar, ia ingin dimasukkan ke sekolah ternama di kota itu, Kota Kaya. Namun, itu tidak terjadi. Ayahnya yang petani kecil, tidak memiliki apapun untuk bisa mengirimnya ke sekolah lanjutan di kota itu, yang namanya diketahui sampai ke langit tujuh.

Beberapa kawan si Dawod di Ujung Kampung ini telah dimasukkan ke sekolah yang mereka sukai, walaupun nilai tidak memadai, namun para guru dan sekolah itu ‘berbaik hati’ kepada orang yang membara lembaran uang banyak. Sementara si Dawod di Ujung Kampung tidak punya itu, walaupun nilainya cukup.

Setelah setahun dua tahun tidak melanjutkan sekolah, akhirnya si Dawod di Ujung Kampung didaftarkan di sebuah sekolah yang baru beberapa tahun dibuka, sekolah yang pada awalnya didirikan bagi anak-anak yang tidak sanggup sekolah ke pusat Kota Kaya atau sekolah lain yang telah bernama. Orang-orang yang bersekolah di sana, sebagian besar yang telah beberapa tahun tidak sekolah.

Dawod di Ujung Kampung tidak menyukai sekolahnya. Ia merasa bisa di tempat yang lebih baik, namun ia tidak menyalahkan siapapun. Kekecewaan itu dipendamnya sendiri yang kemudian berpengaruh pada tindakannya di rumah, dengan kawan-kawan, di pengajian, dan di sekolah. Orang-orang pun terkejut, Si Dawod di Ujung Kampung, kini menjadi anak nakal. Tidak ada seorang pun yang mengetahui penyebabnya, juga Si Dawod sendiri.

Setelah beberapa tahun berlalu, Si Dawod di Ujung Kampung pun menghilang. Ia tidak lagi berada di ujung kampung, juga tidak di pangkalnya. Orang-orang berpikir, mungkin ia telah disapu perang yang tidak bisa dihentikan. Adakah orang yang merindukannya?

Setelah belasan tahun lewat. Dawod di Ujung Kampung pulang ke kotanya. Ia melihat kota itu sudah berganti raja. Orang-orang yang dulu dikenal sebagai perampok, penjual nama agama dan Tuhan, pengkhianat, dan ‘peng…-peng…’ lain telah dicuim tangannya oleh orang-orang, ciuman dari wajah berupa-rupa, duburnya dijilat dengan lidah yang bersaruk di ruangan dan halaman.

Di keliling raja baru itu ada beberapa orang yang dulu masuk ke sekolah Kota Kaya, dengan lembaran uang di dalam berkas salinan ijazah.

“Selamat datang di Kota Kaya, pendidikan kita telah baik di sini, kota kita dipimpin orang bijak,” seorang tukang becak bertopi hitam tersenyum kaku, seperti ada jarum di bibirnya.

Banda Aceh, 23 April 2016.[]

*Thayeb Loh Angen, Penulis novel Teuntra Atom dan novel Aceh 2025

LIPUTAN6
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar