Cegah Konflik Satwa-Manusia, Bener Meriah Kembangkan Kawasan Ekosistem Esensial
REDELONG Pemerintah Kabupaten Bener Meriah mengembangkan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) untuk melindungi keanekaragaman hayati, khususnya gajah. Plt Bupati Bener Meriah Rusli M Saleh mengatakan,…
REDELONG Pemerintah Kabupaten Bener Meriah mengembangkan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) untuk melindungi keanekaragaman hayati, khususnya gajah.
Plt Bupati Bener Meriah Rusli M Saleh mengatakan, luas KEE yang dikembangkan mencapai 1.000 hektar area.
“Kawasan ekosistem esensial ini berada di Kecamatan Pintu Rime Gayo. Kawasan ini merupakan koridor gajah, beruang, kijang, dan satwa dilindungi lainnya,” kata Rusli M Saleh.
Rusli juga mengatakan, pengembangan kawasan ekosistem esensial ini merupakan solusi mengatasi konflik satwa yang dilindungi, khususnya gajah dengan manusia.
“Konflik gajah dengan manusia ini sering terjadi. Dengan adanya KEE ini diharapkan bisa mengatasi konflik yang sudah terjadi sejak puluhan tahun silam,” kata Rusli melalui siaran pers, Rabu, 19 Oktober 2016.
Rusli berharap pengembangan KEE ini akan menjadi proyek percontohan bagi kabupaten/kota lainnya dalam menyelesaikan konflik satwa dilindungi dengan manusia.
Sementara itu, Direktur Bina Pengelolaan Ekosisten Esensial pada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Antung Deddy Radiansyah, yang datang ke Bener Meriah untuk mensosialisasikan KEE menyambut baik pengembangan 1.000 hektare lahan untuk KEE di Kabupaten Bener Meriah.
“Bener Meriah merupakan satu-satunya kabupaten di Indonesia yang mengajukan Kawasan Ekosistem Esensial. Kawasan ini nantinya akan menjadi contoh penyelesaian konflik satwa dilindungi,” kata Antung.
Kawasan Ekosistem Esensial ini kata Antung, adalah ekosistem di luar kawasan konservasi yang secara ekologi mengandung keanekaragaman hayati yang mencakup ekosistem alami dan buatan yang berada di dalam dan luar kawasan hutan.
Untuk KEE yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, sebut dia, diharapkan akan menjadi solusi konflik gajah dan manusia yang terjadi sejak puluhan tahun silam.
“Kami berharap KEE ini tidak hanya dikembangkan Bener Meriah, tetapi juga dilakukan kabupaten tetangga lainnya. Sebab, jelajah gajah tidak hanya Bener Meriah, tetapi juga meliputi kabupaten tetangga,” kata Antung.
Selain itu, Antung juga mengingatkan bahwa masyarakat yang ada di KEE tersebut agar diarahkan kepada tanaman yang bukan menjadi makanan gajah, seperti kemiri dan lainnya.
“Kalau tanaman yang ditanam merupakan makanan gajah, tentu konflik dengan satwa yang dilindungi ini tetap terjadi. Jadi, perlu dipikirkan tanaman atau komoditi apa yang ditanam, namaun tidak diganggu gajah,” kata Antung Deddy Radiansyah.
Sosialisasi turut dihadiri Asisten Ekonomi Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Bener Meriah Drs Mukhlis, Kepala BKSDA Aceh Genman S Hasibuan, serta para kepala desa dan pemangku kepentingan di kabupaten itu.
Sosialisasi KEE ini juga didukung oleh Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) bekerja sama The Asia Foundation (TAF) dan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah.[]