Lambang atau tanda mata uang, seperti Rp (rupiah), $ (dolar), (euro), dan (yen), ditulis sebelum bilangan tanpa dipisahkan tanda titik atau spasi, misalnya Rp50.000. Sebaliknya, ejaan mata uang (misalnya rupiah) ditulis di belakang bilangan, misalnya 50.000 rupiah.
Jika penulisan dengan dieja ini yang dipilih, lambang mata uang tidak digunakan lagi. Sekadar catatan, meskipun sebagian lambang mata uang dunia ditulis sebelum bilangan, beberapa lainnya, seperti Franc Swiss, meletakkan lambang mata uang di belakang bilangan (mis. 50.00 SFr.). Escudo Tanjung Verde bahkan meletakkan lambang mata uangnya sebagai pengganti penanda desimal (5000).
Penggunaan kode mata uang ISO 4217 belum ditetapkan oleh pedoman EYD. Ada dua cara yang digunakan oleh berbagai negara di dunia untuk meletakkan kode ini: di depan (mis. EUR 50) atau di belakang angka (mis. 50 EUR).
Karena kode ini adalah singkatan yang menerangkan angka, sama seperti kata rupiah menerangkan angka, kode ini sebaiknya ditulis di belakang angka, sesuai dengan hukum D-M kita. Jadi, 50.000 IDR, bukan IDR 50.000.
Bilangan mata uang dapat ditulis dengan angka ataupun huruf. Penulisan bilangan dengan angka menggunakan tanda titik sebagai pemisah ribuan (thousands separator) dan tanda koma sebagai penanda desimal (decimal mark), misalnya Rp50.000,00. Angka yang menunjukkan bilangan utuh besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca, misalnya Rp50 ribu.
Jika bilangan ditulis dengan huruf, lambang mata uang tidak dapat dipakai dan digunakan ejaan mata uang, misalnya lima puluh ribu rupiah tidak dapat ditulis Rp lima puluh ribu.