TERKINI
GAYA

Cara Kera Berkomunikasi

Isyarat kera berkaitan dengan kondisi emosi, kondisi peristiwa, dan hubungan dengan sesamanya.

M FAJARLI IQBAL Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 2.7K×

Bukan hanya lebah dan lumba-lumba, binatang yang dipandang memiliki kemampuan berkomunikasi yang lebih baik adalah kera. Binatang ini begitu lincah dan wajahnya dapat digerakkan. Spesies kera kebanyakan memiliki repertorium bunyi dan kera yang tinggal di hutan-hutan lebat sangat tergantung pada bunyi itu. Selain di hutan lebat, ada juga kera yang tinggal di daerah lapang. Berbeda dengan kera hutan yang tergantung pada bunyi, kera daerah lapang memanfaatkan isyarat visual dan ekspresi wajah dalam berkomunikasi. Kera Resus (Macaca Mulatta) memiliki 73 satuan isyarat yang berbeda dan dari jumlah itu hanya 10 yang merupakan bunyi. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Stuart A. Altmann dicatat adanya peristiwa isyarat sebanyak 5.504 pada kera Resus. Kendatipun isyarat visual kera Resus cukup banyak, kekayaan isyarat visual dan ekspresi wajah kera resus belum dapat menyamai kekayaan isyarat visual dan ekspresi wajah simpanse.

Berbeda dengan lebah madu yang berkomunikasi dengan sesamanya seputar informasi mengenai makanan, kondisi cuaca, rasa makanan, dan jarak makanan serta sarang, isyarat kera digunakan dengan sesamanya untuk mengungkapkan emosi, kondisi peristiwa, dan hubungan dengan sesamanya. Isyarat yang dihasilkan oleh setiap kelompok berbeda-beda. Thomas T. Struhsaker, misalnya, pernah melakuan penelitian terhadap kera Vervet (cercopithecus aethiops). Hasilnya, kera ini memiliki 36 isyarat vokal. Tujuh di antaranya mengacu ke peristiwa yang terjadi di sekitar habitatnya. Dia menemukan bahwa bunyi-bunyi kera terjadi dalam sedikitnya 21 situasi yang berbeda dan dapat menghasilkan sedikitnya 22 tanggapan dari kera yang mendengarnya.

Di samping itu, sekelompok kera dari spesies yang sama dapat memiliki aspek-aspek perilaku yang berbeda. Sekelompok spesies kera Jepang (macaca fuscata), misalnya, mencabut umbi-umbian yang dapat dimakan, kelompok lain menyerang tanaman padi, sedangkan yang lain lagi tidak mengganggu. Tampak bahwa kelompok kera muda mendapat pelajar mengenai “adat” dalam kelompoknya dengan cara meniru kera-kera yang lebih tua atau induknya. Kadang-kadang sebuah kebiasaan baru dilakukan  oleh seekor kera muda dan kebiasaan itu diterima oleh induk kera yang lama-kelamaan menyebar kepada semua kera dalam kelompok itu, kemudian diturunkan pada generasi berikutnya.

Dalam sebuah kelompok kera Jepang di Pulau Koshima telah tertanam kebiasaan mencuci ubi jalar sebelum kera-kera itu memakannya dan memisahkan biji-biji gandum dari pasir yang bercampur dengan biji-biji itu. Dengan demikian, setiap kelompok kera memiliki “kebudayaan” sendiri dan hal itu mencakup pula isyarat visual mereka. Kera-kera Koshima telah menguasai isyarat baru untuk meminta makanan. Sekelompok kera resus dilaporkan mempunyai kebiasaan mengecap bibir mereka sebagai isyarat persahabatan dan merentangkan tangan serta menutupnya lagi di muka dadanya secara berulang untuk menunjukkan adanya ancaman.

Dibandingkan dengan komunikasi lumba-lumba, kode-kode isyarat kera lebih sering diteliti. Dari hasil-hasil penelitian itu dapat diyakini bahwa kera seperti halnya binatang lain ternyata hanya melakukan kode-kode isyarat secara otomatis yang dipadukan menurut emosi, bukannya menurut kaidah-kaidah logis seperti yang dilakukan lumba-lumba. Tak hanya itu, juga dapat disimpulkan bahwa kera tidak mengembangkan bahasa hakiki. Namun, yang jelas bahwa banyak paduan isyarat yang dilakukan kera. Atas dasar itu, banyak ilmuwan mencoba mengajarkan bahasa manusia kepada simpanse yang dipandang merupakan spesies kera yang paling pintar. Di samping itu, simpanse dipandang menyerupai manusia, baik dalam hal intelegensi, keingintahuan, maupun kebiasaan sosialnya.[]

Sumber: Kristal-Kristal Ilmu Bahasa, 1995, Bambang Yudi Cahyono

M FAJARLI IQBAL
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar