BANDA ACEH – Adnan Ganto, putra Aceh yang juga seorang bankir pada sebuah bank terkemuka di Amerika Serikat, Morgan Bank meluncurkan buku biografinya berjudul “Keputusan Sulit Adnan Ganto” yang ditulis oleh jurnalis Nezar Patria, yang juga seorang putra Aceh. Peluncuran buku tersebut berlangsung di Hotel Hermes Palace Banda Aceh, Minggu, 23 Juli 2017.
Sejumlah tokoh penting menghadiri peluncuran buku tersebut, di antaranya mantan Panglima TNI Widodo AS, dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Machfud MD. Hadir juga Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Moch. Fachrudin, Wakapolda Aceh, Wali Nanggroe Malik Mahmud, Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah, mantan Gubernur Zaini Abdullah, Kajati Aceh Raja Nafrizal, dan sejumlah tamu penting lainnya dari berbagai instansi.
Nezar Patria selaku penulis mengatakan, banyak sisi menarik dari kehidupan seorang Adnan Ganto namun tidak banyak diketahui publik. Sebagai seorang bankir yang berkarir di luar negeri, Adnan Ganto juga bekerja sebagai penasehat tujuh Menteri Pertanahan Indonesia. Fakta ini menurut Nezar menunjukkan bahwa Adnan Ganto bukanlah sosok yang biasa.
“Di kalangan wartawan namanya sudah dikenal cukup lama. Tapi tidak bisa disentuh. Namanya muncul di akhir pemerintahan Orde Baru tahun 1997. Di kalangan wartawan dijuluki untouchable,” kata Nezar saat memberikan sambutan.
Sisi menarik lainnya kata Nezar, bagaimana perjalanan seorang Adnan Ganto yang seorang bankir bisa dekat dengan LB Moerdani. Salah satu tokoh militer Indonesia yang banyak berkecimpung di dunia intelijen.
Nezar juga menjelaskan mengapa ia memilih judul “Keputusan Sulit”. Hal ini katanya tak terlepas dari kondisi Adnan Ganto yang sering dihadapkan pada pilihan-pilihan yang membuatnya harus memilih salah satunya. Padahal semua pilihan itu sama penting dan berartinya buat Adnan. Kondisi ini oleh seorang filsuf bernama Isaiah Berlin disebut sebagai 'dilema etis', di mana seseorang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama benar.
“Inilah yang dialami Adnan. Pertama ketika mendapat tawaran dari dua bank yang berbasis di Belanda dan Inggris,” kata Nezar.
“Akhirnya Adnan pindah ke Morgan Bank dan bertemu Beni Moerdani saat bekerja di Morgan ketika ditempatkan di Singapura. Tahun 1990 Adnan kemudian ditawarkan Beny bekerja di Dephan RI sebagai penasehat. Tentu saja ini seperti tawaran bumi dan langit.”