Pada abad ke-6 hingga abad ke-14 Masehi, peradaban Islam menghasilkan banyak karya ilmiah di bidang sains dan teknologi. Seberapa berkilau gemilangan itu, sejarawan Barat punya gambarannya.
Dalam bukunya, Introduction to the History Science, Sejarawan Sains, George Sarton menuliskan, “Cukuplah kita menyebut nama-nama besar yang tak tertandingi di masa itu oleh seorangpun di Barat. Jabir bin Hayyan, Al-Kindi, al-Khawarizmi, al-Frgani, ar-Razi, Sabit bin Qurra, al-Battani, al-Farabi, Ibrahim bin Sinan, al-Masudi, at-Tabari, Abu al-Wafa, Alin bin Abbas, Abul Qasim, Ibnu al-Jazzar, al-Biruni, Ibnu Sina, Ibnu Yunus, al-Khasi, Ibnu Haitam, dan Umar Khayyam.
“Jika seseorang mengatakan kepada Anda bahwa Abad Pertengahan sama sekali steril dari kegiatan ilmiah, kutiplah nama-nama ilmuwan di atas. Mereka semua hidup dan bekarya dalam periode yang amat singkat.” tulisnya.
Kehebatan ilmuwan Islam ini tak terlepas dari landasan agama yang dibangun. Ini sejalan dengan perintah dalam Alquran untuk mengamati alam dan menggunakan akal. Alquran merupakan sumber pertama ilmu, seperti yang dinyatakan dalam Alquran surah An-Nisa ayat 82.
Perintah Alquran ini kemudian diperkuat Hadist Rasulullah. “Menuntut Ilmu itu wajib bagi Muslim Lelaki dan Perempuan” (HR Bukhari dan Muslim). Rasulullah juga menunjukan bahwa ilmu itu bersifat universal. “Tuntutlah ilmu walau hingga negeri Cina,” (HR Bukhari dan Muslim”.
Bahkan kedudukan ilmuwan dipandang utama dalam Islam. Seperti diriwayatkan Bukhari, Rasulullah bersabda, Manusia yang mulia adalah mukmin berilmu”.[]Sumber:republika