BANDA ACEH – Melihat seringnya bencana terjadi di Aceh, Dewan Pengarah Badan Penanggulangan Bencana (BPB) Aceh, Khariul Muslim, mengatakan Aceh merupakan supermarket bencana di Indonesia.
“Semua ada (gempa, tsunami, banjir, banjir bandang) dan yang belum ada angin topan dan tornado,” kata Khairul Muslim saat diskusi publik “Analisis Kebijakan Pemerintah terhadap Penanggulangan Bencana Banjir Daerah” di Koffe 3in1 Banda Aceh, Rabu, 30 Desember 2015.
Menurut Kairul, penanggulangan bencana yang dilakukan saat ini selalu bertabrakan dengan birokrasi yang sulit.
“Ini yang kadang-kadang menjadi permasalahan selaman ini di lapangan,” sebutnya.
Ia mengatakan, bencana yang terjadi merupakan tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah, swasta, dan masyarakat. Jika ketiga unsur ini bersatu dan singkron (bersama) tentu penanggulangannya akan lebih mudah.
“Jadi semua pihak harus ikut terlibat,” katanya.
Labih lanjut ia menjelaskan, fenomena bencana yang terjadi di Aceh menjadi bahan pembelajaran dan penelitian oleh orang lain (dalam negeri dan manca negara).
Khairul mencontohkan, orang Jepang saja mencontoh masyarakat Aceh. “Orang Aceh tidak gila gara-gara bencana Tsunami, tapi berbeda dengan masyarakat Jepang (gila gara-gara tsunami),” katanya.
Menurutnya, hal inilah yang menjadi perbedaan antara orang Aceh dangan Jepang.
“Mereka mengendalikan bencana dengan ilmu pengetahuan, tapi kita (masyarakat Aceh) menanggulanginnya dengan iman dan taqwa,” tambahnya.
Ia menyebutkan ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam melakukan penanggulanagan bencana, di antaranya masih lemahnya pihak terkait menjalankan tupoksi kerjanya, good gavernance yang masih kurang, serta koordinasi yang masih minim (antara pemerintah, swasta, dan masyarakat).
Diskusi tersebut diselenggrakan oleh Satuan Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (SAPMA-PP) dan dalam kesempatan yang sama hadir juga Direktur WALHI Aceh, M. Nur, dan Akademisi Unsyiah, Khairul Iqbal.[] (tyb)