TERKINI
NEWS

Bocah Pengungsi Irak Kehilangan Para Guru

Mahzar Mohammed mengatakan satu-satunya masalah yang dihadapi adalah para guru yang melarikan diri

VIVA Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 721×

KAWERGOSK – Bocah pengungsi Suriah di kamp Kawergosk, Irak Utara telah mengalami banyak kehilangan. Dari mulai anggota keluarga yang terbunuh hingga mainan kecil mereka.

Kini para bocah ini pun terancam tak lagi bisa mengakses pendidikan. Satu demi satu guru sekolah berkemas dan berangkat ke Eropa.

Para guru mencari kesempatan, lingkungan yang lebih aman dan kehidupan lebih baik. Tercatat sudah sembilan guru Kawergosk pergi ke Eropa musim panas ini dan hanya beberapa yang tersisa.

Mizgeen Hussein (28 tahun) adalah salah satu di antara guru yang tinggal. Pengungsi dari Derik Suriah ini mengaku meski memiliki komitmen pada para siswa tetapi, ia akan pergi ke Eropa jika memiliki uang. “Alasan bagi saya untuk pergi adalah untuk memiliki masa depan,” ujarnya yang mengajar 37 siswa di sekolah kamp.

Untuk saat ini, lanjutnya, ia akan menyelesaikan belajar  mengajar dengan siswa sampai ada guru-guru lain yang datang. Kamp di Irak mengalami eksodus guru yang sama menuju Eropa. Sementara jumlah siswa meningkat karena pertempuran terus terjadi di Suriah dan Irak. 

Perang sipil yang semakin kacau melanda Suriah selama hampir lima tahun dan ISIS telah mengklaim banyak wilayah di Irak dan Suriah.

Empat dari 21 guru di sekolah dasar Ayn al-Arab di kamp Domiz  pun telah meninggalkan kamp pada bulan lalu. Dengan lebih dari 1.000 siswa. Manajer Abdullah Mohammed Saeed mengatakan sekolah dalam bahaya.

“Kami membutuhkan orang baru, kalau tidak kita harus menutup sekolah,” ujarnya.

Kepala Kawergosk Mahzar Mohammed mengatakan satu-satunya masalah yang dihadapi adalah para guru yang melarikan diri. “Kami tidak memiliki masalah lain,” katanya.

Sekitar 250 ribu pengungsi Suriah berada di wilayah utara Irak. Lebih dari sepertiga dari mereka tinggal di kamp-kamp. Banyak di antara pengungsi telah menemukan pekerjaan, membuka toko atau mengejar pekerjaan di bidang pendidikan. Tapi masa depan yang tidak pasti menyebabkan mereka ragu untuk bertahan di daerah itu.[] sumber: republika.co.id

VIVA
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar