Membicarakan kata baku dan tidak baku seolah tiada habisnya. Dalam praktik berbahasa, kata baku dan tidak baku laksana dua kompetitor. Keduanya digunakan secara bersaing, baik secara lisan maupun tulisan.

Sayangnya, bila melihat kenyataan, kata baku selalu dibidas oleh yang tidak baku. Dalam setiap pembidasan, dapat dipastikan kata tidak baku selalu muncul sebagai pemenangnya sebab banyak orang yang lebih memilih menggunakannya.

Alasannya macam-macam. Salah satunya karena kata tidak baku itu sudah sangat populer dalam “singgasana” pikiran manusia. Saking populernya, “abu-abulah” kata itu. Artinya, orang cenderung menganggap kata itulah yang baku, padahal tidak. Akhirnya, terjadilah “kesalahan berjamaah”.

Ambil saja contoh kata “mawas diri”. Saya melihat kata ini lebih populer digunakan. Kala saya meramban kata ini dengan meminta bantuan “Mbah Google”, muncullah ribuan artikel yang menggunakan kata “mawas diri” ini. Adapun kompetitornya, yaitu kata yang baku dari “mawas diri” hanya dibahas pada kamus-kamus daring.

Lantas, apa kata baku dari mawas diri? Untuk menjawab hal ini, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, Pusat Bahasa patut menjadi pedoman.

Bila kita mengetikkan kata mawas diri dalam KBBI tersebut, kata mawas diri memang muncul, tetapi diarahkan pada kata lain, lain wawas diri. Bila meramban kata wawas diri, kita akan menemukan kata tersebut, lalu di bawahnya diterangkan bahwa mawas diri merupakan bentuk tidak baku dari wawas diri.

Maka, terjawablah bahwa mawas diri yang selama ini dipakai secara “berjamaah” sehingga terkesan sebagai bentuk yang benar, sebenarnya bukanlah kata baku. Wawas diri adalah kata bakunya, bukan mawas diri.

Wawas diri inilah yang saya sebut sebagai kompetitor yang kalah saing dengan mawas diri bila diramban dengan bantuan Google.

Wawas diri berarti melihat (memeriksa, mengoreksi) diri sendiri secara jujur; introspeksi, misalnya dalam kalimat Kita harus wawas diri agar jangan membuat kesalahan yang sama.

Wawas diri  terdiri dari dua kata, yaitu wawas dan diri. Wawas merupakan kosakata bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Jawa. Kata ini berarti meneliti; meninjau; memandang; mengamati.

Sebagaimana halnya wawas diri, kata wawas telah menjadi kosakata bahasa Indonesia dan dapat digunakan dalam kalimat, seperti Politik negara kita selama ini lebih banyak digunakan untuk wawas ke dalam.

Nah, tunggu apa lagi, mari wawas diri, bukan mawas diri.[]