BIREUEN Sejumlah situs sejarah di Kabupaten Bireuen terkesan terabaikan, termasuk makam para pejuang atau pahlawan. Padahal, para pejuang itu telah berjasa besar mengusir penjajah, bahkan Bireuen pun dijuluki Kota Juang.
Para pejuang itu rela berdarah-darah hingga gugur di medan perang demi terbebasnya keturunan mereka hingga generasi saat ini dari belenggu penjajahan. Lantas, mengapa pemerintah dan masyarakat di era ini begitu mudah membelakangi jejak para syuhada di tanoh nanggroe?
Berdasarkan penelusuran portalsatu.com, Selasa, 10 November 2015, ternyata banyak makam pejuang tersebar di Bireuen. Mulai wilayah timur hingga barat kabupaten ini. Di wilayah timur yaitu Kecamatan Gandapura yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Utara, misalnya, setidaknya terdapat dua makam pejuang kemerdekaan. Makam Tgk. Banta Ahmad, tepatnya di Desa Samuti Krueng, dan makam Tgk. Cot Di Lareung.
Hasil pantauan di sejumlah lokasi, makam para pejuang dan syuhada di Bireuen, tidak mendapat perawatan yang layak, baik dari warga maupun pemerintah daerah setempat.
Salah satu situs sejarah dikunjungi portalsatu.com adalah makam Raja Baroa di Gampong Raya Tambo, Kecamatan Peusangan. Penduduk setempat menyebutnya Raja Kandang. Terlihat makam pejuang itu tidak terurus, bahkan tertutup ilalang dan tumbuhan liar lainnya.
Kami di sini biasanya menyebut makam Raja Kandang, makam tersebut sudah lama tidak terurus hingga ilalang seperti hutan menutupi lokasi makam tersebut, ujar Armia, salah seorang warga di gampong tersebut.
Ironisnya lagi, kata Armia, banyak generasi muda terutama kalangan remaja di kawasan itu tidak mengetahui bahwa di gampongnya ada makam seorang pahlawan. Seharusnya pemerintah memerhatikan kondisi makam pejuang tersebut, katanya.