TERKINI
KAMPUS

Begini Kondisi Makam Pejuang di Kota Juang

Ironisnya lagi, kata Armia, banyak generasi muda di kawasan itu tidak mengetahui bahwa di gampongnya ada makam seorang pahlawan.

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 4.2K×

BIREUEN – Sejumlah situs sejarah di Kabupaten Bireuen terkesan terabaikan, termasuk makam para pejuang atau pahlawan. Padahal, para pejuang itu telah berjasa besar mengusir penjajah, bahkan Bireuen pun dijuluki “Kota Juang”.

Para pejuang itu rela berdarah-darah hingga gugur di medan perang demi terbebasnya keturunan mereka hingga generasi saat ini dari belenggu penjajahan. Lantas, mengapa pemerintah dan masyarakat di era ini begitu mudah “membelakangi” jejak para syuhada di tanoh nanggroe?  

Berdasarkan penelusuran portalsatu.com, Selasa, 10 November 2015, ternyata banyak makam pejuang tersebar di Bireuen. Mulai wilayah timur hingga barat kabupaten ini. Di wilayah timur yaitu Kecamatan Gandapura yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Utara, misalnya, setidaknya terdapat dua makam pejuang kemerdekaan. Makam Tgk. Banta Ahmad, tepatnya di Desa Samuti Krueng, dan makam Tgk. Cot Di Lareung.

Hasil pantauan di sejumlah lokasi, makam para pejuang dan syuhada di Bireuen, tidak mendapat perawatan yang layak, baik dari warga maupun pemerintah daerah setempat.

Salah satu situs sejarah dikunjungi portalsatu.com adalah makam Raja Baroa di Gampong Raya Tambo, Kecamatan Peusangan. Penduduk setempat menyebutnya Raja Kandang. Terlihat makam pejuang itu tidak terurus, bahkan tertutup ilalang dan tumbuhan liar lainnya.

“Kami di sini biasanya menyebut makam Raja Kandang, makam tersebut sudah lama tidak terurus hingga ilalang seperti hutan menutupi lokasi makam tersebut,” ujar Armia, salah seorang warga di gampong tersebut.

Ironisnya lagi, kata Armia, banyak generasi muda terutama kalangan remaja di kawasan itu tidak mengetahui bahwa di gampongnya ada makam seorang pahlawan. “Seharusnya pemerintah memerhatikan kondisi makam pejuang tersebut,” katanya.

Kondisi hampir sama dijumpai pada situs-situs sejarah di Gampong Babah Jurong, Kecamatan Kuta Blang. Di gampong tersebut terdapat makam sejumlah pejuang tersebar di beberapa lokasi. Ada pula sebuah tugu yang dibangun di lapangan bola untuk mengenang para pimpinan perang melawan Jepang. Namun tugu sejarah itu telah dikepung rumput liar.

Dalam kompleks mungil tugu itu ada catatan pada sebuah batu, “Nama-nama pimpinan perang melawan Jepang, 24 November 1945”. Tertulis 11 nama pimpinan perang, yaitu Tgk. A. Rahman Meunasah Meucap, Tgk. Ismail AR, Tgk. H, Mohd. Thahir Mahmud, T. Usman Hamid, Tgk. Ibrahim Arifin, Sayed Umar A. Wahab, Syahkubat Mahmud, M. Abidin Amin, T. Puteh Arifin, Tgk. Pang Ali, dan Syeh Muhammad Insya.

Tertulis pula enam nama para syuhada, yakni Mandor Basyah, Tgk. H. Cut Ben, Tgk. H. Krueng, Yakob Ibrahim, Yahya Umar dan Tgk. Husin Karim.  

“Di daerah ini memang banyak makam para syuhada, letaknya di sudut lapangan bola, sudut kiri dan kanan, dan juga dalam pekarangan sekolah, semuanya tersebar di empat tempat dalam gampong ini,” ujar Rafika, warga Babah Jurong, yang juga mahasiswi Umuslim, Peusangan.

Rafika menambahkan, “Seharusnya pemerintah melestarikan makam-makam para pejuang dan syuhada tersebut, sehingga masyarakat Bireuen mengetahui bahwa sangat banyak situs sejarah atau cagar budaya yang terdapat di Bireuen”.[]

Laporan Nurhasanah

 

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar