TERKINI
NEWS

Bachtiar Abdullah: Cara Memperjuangkan MoU dengan Mengutamakan Kesejahteraan Rakyat

MoU ini adalah kepunyaan bangsa Aceh, dan bukan kepunyaan GAM atau kelompok tertentu

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.6K×

BANDA ACEH – Koordinator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang juga anggota tim Perundingan GAM di Helsinki, Finlandia, Bachtiar Abdullah mengajak masyarakat, Milad GAM yang ke-39  tujuannya untuk mengenang jasa para syuhada yang gugur di masa konflik Aceh.

“Kemarin kita masih bisa bersama-sama merayakan hari ulang tahun GAM yang ke-39 di seluruh dunia dengan cara masing-masing dan menurut tempat serta keadaan. Kita sambut hari bersejarah ini dengan tujuan untuk mengenang kembali perjuangan rakyat Aceh dan para syuhada yang telah gugur ketika konflik antara GAM dan RI yang berakhir dengan perjanjian perdamaian MoU di Helsinki 10 tahun yang lalu,” tulis Bachtiar dalam siaran pers yang diterima Waspada Online, Sabtu (5/12).

Bersamaan dengan ini juga, lanjutnya, mari kita sama-sama memanjatkan doa kepada Allah semoga orang-orang yang terkena imbas selama konflik di Aceh diberikan kesabaran dan ketabahan kita berharap agar mereka selalu tawaqal dalam menghadapi segala cobaan.

“Tak lupa pula kepada mereka yang kehilangan orang yang disayang, kita berdoa semoga saudara kita yang telah lebih dahulu menghadap Ilahi agar diluaskan kuburnya dan ditempatkan bersama para Aulia dan para Anbiya,” tulisnya lagi.

Perjuangan ini, tulis Bachtiar, tidak selesai dengan hanya menandatangani perdamaian saja. Karena perjanjian perdamaian itu adalah permulaan dari pekerjaan yang lebih besar di hadapan kita saat ini yang telah memasuki ajang perjuangan politik yang sangat kompleks dan rumit, yang penuh dengan rintangan, tantangan dan cabaran.

“Kalau dulu kita berperang dengan senjata dan dengan mudah kita bisa tau siapa musuh kita, tapi dalam konteks perjuangan politik kita tidak tau siapa lawan dan siapa kawan sehingga kalau kita lalai maka kehancuran akan menimpa kita bangsa Aceh yang mulia,” ulas Bachtiar.

Dalam siaran pers tersebut, Bachtiar juga menjelaskan bahwa pada hari kemarin, GAM telah mengambil dan telah komit dengan perdamaian dan harus diketahui bahwa pegangan kita adalah perjanjian MoU di Helsinki. “Bagi kita, cara memperjuangkan seluruh isi dari MoU adalah dengan mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan rakyat Aceh daripada kepentingan peribadi atau kelompok,” tukas Bachtiar.

Karena menurutnya, MoU ini adalah kepunyaan bangsa Aceh, dan bukan kepunyaan GAM atau kelompok tertentu. Kalau dulu hanya mampu bertahan atas dukungan moral dan material dari bangsa Aceh, maka dalam keadaan damai begini tidak ada alasan untuk tidak bisa memperjuangkan semua butir-butir MoU itu sampai tuntas demi kepentingan bersama.

“Sebab itulah perlunya kita menggunakan langkah-langkah yang bijak dan strategi yang cerdas agar semua berjalan seperti yang kita harapkan. Kita sadar bahwa pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang gampang dan bisa diselesaikan dengan cepat, tapi dengan kebersamaan maka InsyaAllah kita bisa menyelasaikannya,” cetusnya.

Sebagai contoh dirinya menjelaskan bahwa masalah bendera dan lambang dalam konteks damai yang sampai hari ini masih tidak selesai selesai juga. Jika bersedia merubah semua cara kerja dengan mekanisme demokratis yaitu dengan menerima masukan dan aspirasi dari rakyat Aceh, maka hal itu telah lama bisa dituntaskan.

Akibat dari berlarut-larutnya persoalan yang tak penting itu, maka hal-hal lain yang lebih penting seperti kesejahteraan rakyat, KKR, HAM dan yang lain-lain terabaikan begitu saja dan malah terlepas dari fokus. Belum lagi dalam hal menyantuni anak yatim, korban konflik dan kaum dhu’afa yang masih jauh dari apa seharusnya dibuat.

“Kalau masalah yang utama ini tidak kita laksanakan sesegera mungkin, maka jangan harap Aceh bisa bangkit untuk maju walau Aceh mempunyai kekayaan yang berlimpah ruah. Perjuangan ini tidak akan pernah berhasil kalau di kalangan kita sendiri masih cerai berai dan bermusuh-musuhan sesama kita lebih dari musuh nenek moyang kita dulu,” tambahnya lagi.

Karena itu kata dia, GAM wajib utuh dan solid sebagai sebuah organisasi politik yang masih exis dan harus bisa menjadi perisai bangsa Aceh untuk memperjuangkan kelanjutan semua butir-butir MoU Helsinki sehingga selesai.[] sumber: waspada.co.id

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar