TERKINI
PROFIL

Apa yang Hilang dari Kebudayaan Aceh dan Bagaimana Menemukannya Kembali

PERANG yang sangat melelahkan di masa silam antara Aceh dengan Belanda adalah di mana telah menjadi detik-detik hilangnya kebudayaan Aceh. Karena perang di mana saja…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 7 menit
SUDAH DIBACA 2.1K×

PERANG yang sangat melelahkan di masa silam antara Aceh dengan Belanda adalah di mana telah menjadi detik-detik hilangnya kebudayaan Aceh. Karena perang di mana saja adalah kobaran-kobaran api, pertumpahan darah, kehilangan harta benda, kehilangan naskah-naskah penting negara, dan di Aceh ditambah penghancuran kekuatan fikiran seperti yang telah dilakukan oleh Snouck Horgrunje.

Snouck, dengan dakwah-dakwah dan karya-karyanya mencoba memudarkan pemikiran murni Islam seperti yang diajarkan oleh maha guru-maha guru seperti para Syekh dan para Teungku Chik-Teungku Chik di tugaskan oleh Kesultanan Aceh pada putaran kejayaan di masa lalu.

Sulit melupakan ketika dulu Belanda pertama melancarkan serangan besar-besaran ke atas Kesultanan Aceh Darussalam pada 6 April 1873 oleh Jendral Kohler dengan 3000 tentara. Dan dalam perang selama tiga hari itu, mayat-mayat dari rakyat dan asykar tentara Aceh Darussalam dan juga tentara serdadu Belanda rubuh bergelimpangan di seputaran Biturrahman. 

Atau contoh terdekatnya seperti yang terjadi ketika musibah Tsunami pada 2004. Sulit untuk dilupakan.

Setelah itu, hari demi hari hingga bertahun setelahnya, Kesultanan Aceh terus mengalami keadaan yang kurang baik dalam berbagai hal baik di segi kekurangan peralatan perang, nyawa, dan sedikit demi sedikit wilayah kesultanan menjadi semakin berkurang.

Kemudian, pada September 1873 Belanda kembali melakukan penyerangan kedua dengan 18.000 tentara oleh Van Sweten.

Setelah tiga belas hari terjadi perang pada tahap kedua itu, para pejuang Kesultanan Aceh Darussalam menyingkir ke bukit-bukit karena Belanda menyebar kuman kolera kedalam masjid Baiturrahman. Namun, karena kebodohan itu Belanda sendiri juga terjangkit oleh wabah mematikan tersebut.

Pada saat rakyat banyak yang syahid, maka untuk membangkitkan semangat juang fisabilillih, seorang ulama Teungku Chik Ditiro Muhammad Saman, bangkit untuk menjadi panglima perang setelah istana dihancurkan dan harta benda berharga. Milik Aceh seperti artefak-artefak, seperti meriam lada sicupak dan barang- barang berharga milik Kerajaan Aceh di angkut dengan kapal dan dibawa ke negeri Belanda.

Barang Aceh yang dirampok tersebut masih ada bila anda hari ini berkunjung ke sana. Benda-benda itu masih terlihat tersimpan di museum Arnhem Belanda.

Waktu itu di Aceh terciptalah satu karya Syair penyemangat yang digemakan untuk rakyat Aceh yang disusun oleh; Tgk. Chik Pante Kulu, ”Hikayat Prang Sabi”, dikarenakan banyaknya rakyat serta tokoh-tokoh penting Aceh yang syahid di dalam peperangan melawan penjajahan Belanda.

Namun bersamaan dengan itu pula, Belanda yang telah beratus tahun bermusuhan dengan Aceh juga telah mempelajari karekter orang Islam (Aceh) mencoba untuk mengatasi keadaan yang tidak menguntungkan pihak mereka itu dengan mengutus seorang Belanda yang memiliki konsep berfikir di atas rata-rata.

Kemudian ia dikirim ke Mekkah untuk pura-pura masuk Islam dan belajar ilmu tentang Islam. Setelah itu ia berganti nama menjadi Abdul Ghafar dan dikirim ke Aceh dengan andalan Alquran- Hadits dan logika (munafik) untuk menetralkan semangat jihad yang telah dibina dengan konsep Islam ‘Hikayat Perang Sabi’ oleh Tgk Chik Pante Kulu.

Kemudian keberhasilan Abdul Ghafar dalam menyusup dalam masyarakat Aceh membuahkan banyak hasil. Di antaranya ia berhasil menulis satu catatan kehidupan orang-orang Aceh. Yang mengakibatkan generasi setelah itu menjadi generasi yang pesimis untuk segala hal.

Namun hari ini, masa-masa pesimisme Snouck Horgrunje itu pun telah berlalu dan kini telah berubah Aceh yang damai.

Kini masyarakat Aceh mulai mencoba kembali untuk mengumpulkan puing-puing keruntuhan dan kekompakan Islam, mengisi dengan sikap-sikap optimism untuk bisa menyelesaikan perkara-perkara lama telah pudar yang terjadi di masa silam.

Kini harusnya kita kembali pada konsep masa lalu yang telah teruji akan kandungan rasa optimisme yang tinggi sebagaimana yang telah dicatat oleh sejarah masa lalu. 

Namun hari ini ada satu perbedaan dalam sebutan antara masa saat ini dengan masa lalu. 

Di masa lalu yakni sebelum Belanda menyerang (perang dunia ke II), para ilmuan disebut dengan Syekh atau Teungku Chik karena di masa Islam memimpin dunia, pendidikan Islam adalah sebagai pondasi dalam setiap pemikiran. 

Dan di saat perang dunia berakhir gelaran-gelaran para ilmuan berubah menjadi insinyur atu professor, dan bahasa dunia pun dari bahasa Arab diganti ke bahasa Inggris.

Dahulu, di setiap berbagai wilayah di Aceh pasti telah pun terdapat seorang ilmuan yang ditugaskan oleh Sultan untuk menggali sumber daya manusia setempat seperti Syekh Abdurrauf di Banda Aceh, Teungku Chik Awe Geutah bernama asli Abdul Rahim bin Muhammad Saleh di Matang Glumpang dua, Bireuen, Tgk. Chik Di Paloh Abdussalam Al-Yamani di Gampong Paloh Dayah atau Cot Trieng, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe.

Juga Teungku Chik Paya Bakong di Matangkuli Aceh Utara, Teungku Chik di Reubee bernama asli Syeikh Abdus Samad As-Shagaf dari Iskandariah Mesir di kampung Raya-Reubee, kira-kira 12 km arah ke barat daya Kota Sigli, Teungku Chik Di Pasi– nama beliau yang sesungguhnya adalah Abdus Salam bin Burhanuddin, lahir di Gigieng, lebih kurang 20 km sebelah timur Kota Sigli.

Teungku Chik Trueng Campli di Pidie, dan Teungku Chik Haji Muhammad Pante Kulu adalah seorang ulama besar Aceh yang menulis karya sastra perang yang terkenal yaitu Hikayat Prang Sabi. Dia dilahirkan pada tahun 1251 H (1836 M) di Gampong Pante Kulu, Titeue Pidie.

Menjenguk apa saja yang bisa digunakan pada masa ini menuntut kita pada kebijakan pemerintah untuk mampu menempa generasi-generasi Aceh masa depan yang beriman dan handal dalam mengelola sumber daya alam Aceh yang masih butuh perhatian yang sangat serius ini. 

Sumber daya manusia yang sangat diperlukan yakni untuk bisa mengelola semua sumber daya alam menjadi suatu produk yang bisa di banggakan Aceh di pasar internasional.

Hari betapa banyak masih tugas-tugas kita yang dituntut oleh masa-masa damai seperti masa sekarang ini. 

Seperti pengelolaan besar besaran masyarakat Aceh pada sumber alam hingga menjadi suatu produk seperti pinang, pala, cengkeh, sawit, dan lain-lain.
untuk menanggapi masalah ini mungkin adalah berguna bila pemerintah Aceh mengundang banyak guru-guru berkualitas untuk menjadi pengajar handal dalam mendidik anak-anak Aceh supaya bisa memanfaatkan sumber daya alam Aceh yang begitu sangat melimpah tersebut.

Misalnya menjadi suatu perhiasan atau apakah itu oli-oli kendaraan atau apa saja yang berguna demi kembalinya kebudayaan yang positif untuk mengejar ketertinggalan masyarakat Aceh dalam berbagai aspek dan tentunya harus tetap dibawah pondasi Islam kuat.

Sumber daya alam Aceh yang telah tercatat oleh pemerintah Aceh hingga hari ini adalah seperti gas alam, minyak bumi, batu bara, emas, dan tembaga, gas alam dan minyak bumi di Arun, tembaga, timah hitam, minyak bumi, batubara, dan gas alam. 

Selain itu, terdapat tambang emas di daerah Aceh Besar, Pidie, Aceh Tengah, dan Aceh Barat. 

Tambang biji besi terdapat di Aceh Besar, Aceh Barat, dan Aceh Selatan, tambang mangan terdapat di Kabupaten Aceh Tenggara dan Aceh Barat. 

Sementara tambang biji timah, batu bara, dan minyak bumi terdapat di Aceh Barat dan Aceh Timur, yakni di Rantau Kuala dan Simpang Peureulak, serta gas alam di daerah Lhoksukon dan Kabupaten Aceh Utara. Juga di bidang perikanan, Peternakan, Perkebunan, dan lain-lain. 

Dengan begitu banyaknya sumber daya alam rasanya adalah suatu kekeliruan besar bila kita harus menggunakan uang luar negeri untuk membangun Aceh.

Untuk mewujudkan itu semua mungkin Aceh membutuhkan seorang pemimpin yang memiliki karekter yang baik, yang taat pada hukum Islam dan disiplin seperti Khalifah Sayyidina Umar bin Khattab, Sultan Alfatih, Sultan Selim II, Sultan Al Kahhar, dan Sultan Iskandarmuda yang tepat waktu, hidup sederhana dan selalu memenuhi janji, selalu memiliki perencanaan yang baik dan setelah itu membantu orang-orang untuk dapat mengerjakannyan, selalu mau untuk mendengar kritik dan saran yang baik untuk perubahan yang lebih baik.

Mereka membuat keputusan yang tepat.

Dalam soal kepemimpin Kekhalifahan Turki Utsmani di masa silam telah menjadi satu contoh yang baik untuk kembali kita tiru untuk kembalinya peradaban dan kebudayaan Islam yang baik dimasa akan datang yang gemilang.[]

Penulis: Lodins LA. Bahan bacaan: Buku Strategi Belanda Mengepung Aceh, oleh Yusra Habib Abdul Ghani, Nordin Husin, azlizan Mohd Enh, dan beberapa situs net.

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar