BANDA ACEH – Libur hari ini dimanfaatkan warga Banda Aceh untuk mengunjungi sejumlah lokasi objek wisata. Salah satu yang menarik minat masyarakat adalah Museum Tsunami Aceh di Jalan Iskandar Muda. Bahkan ada di antara mereka yang sudah berulang-ulang mengunjunginya, namun tak pernah merasa bosan.

Zikril misalnya. Siswa SMA ini sangat mengagumi arsitekturnya yang indah dan megah. “Saya sudah lima kali ke sini tapi tidak terasa bosan, itu karena keindahan museum ini. Yang menarik di museum ini adalah ruang peraga bencananya karena itu bisa mengedukasi bagi saya sendiri dan orang lain,” kata Zikril kepada portalsatu.com, Jumat, 25 Maret 2016.

Museum Tsunami ini dirancang sebagai monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 sekaligus pusat pendidikan dan tempat perlindungan darurat andai tsunami terjadi lagi.

Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Indonesia, Ridwan Kamil. Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 m?2; yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Di dalamnya, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami.

Dinding museum dihiasi relief yang merepresentasikan orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh. Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.

Bangunan ini memperingati para korban, yang namanya dicantumkan di dinding salah satu ruang terdalam museum, dan warga masyarakat yang selamat dari bencana ini. Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi korban tewas, museum ini juga berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam ini pada masa depan, termasuk “bukit pengungsian” bagi pengunjung jika tsunami terjadi lagi.[](ihn)

Laporan Munawir Syarif