TAKENGON Zakaria Saman (Apa Karya) menyatakan tidak berambisi menjadi Gubernur Aceh. Namun, menurut mantan Menteri Pertahanan GAM ini, ia terpaksa maju sebagai bakal calon gubernur pada pilkada nanti lantaran masih memegang teguh sumpah GAM untuk memerdekakan rakyat dari kemiskinan.
Apalagi, kata Apa Karya, kondisi perekonomian rakyat Aceh saat ini semakin tidak menentu.
Apa Karya juga menegaskan, pencalonannya sebagai kandidat Gubernur Aceh merupakan bentuk menjunjung tinggi demokrasi. “Jadi, bèk gara-gara pemilu, tanyoe karu sabé keudroe-droe, dendam sampoe mate, nyan hana get (Jangan gara-gara pemilu, kita ribut antarsesama, dendam sampai mati, itu tidak baik), kata Apa Karya kepada portalsatu.com di sela-sela kunjungannya ke Aceh Tengah, Selasa, 22 Desember 2015.
Ditanya mengapa ia memilih maju lewat jalur independen/perseorangan, Apa Karya mengaku sudah tidak seide dengan pengurus Partai Aceh (PA). Ia menilai PA sudah dijadikan partai milik kelompok tertentu. Kondisi itu, menurut Apa Karya, tentu jauh melenceng dari misi awal partai.
“Partai hana salah, tapi pengurus jih yang h'ana beutoi. Meunyoe anggota di yuep, di gampông hidéh chit hana meu ditupue,” ujar Apa Karya yang juga Tuha Peut PA.
Apa Karya turut mengimbau masyarakat Aceh untuk jeli memilih pemimpin Aceh ke depan.
“Bèk rugoe watèe siminet, rugoe meulala limoeng thon. Nyan peurlèe taingat (Jangan sampai rugi waktu memberikan hak suara, rugi selama lima tahun. Itu perlu diingat),” katanya menamsilkan.[] (idg/*sar)