LHOKSEUMAWE – Dosen Universitas Malikussaleh, Fauzi, M.A., menyebutkan jika kemelut antara legislatif dan eksekutif Aceh terkait RAPBA 2016 terus menerus direcoki pasti akan selalu ribut.

“Apalagi ini jelas ada suatu kepentingan-kepentingan tertentu,” kata Fauzi kepada portalsatu.com, di Lhokseumawe, Senin, 28 Desember 2015.

Dia menilai eksekutif terkesan tidak mampu menjalankan anggaran secara maksimal pada awal hingga pertengahan tahun, sehingga terpaksa digenjot di triwulan akhir tahun.

Menurutnya, jika program yang dikerjakan tersebut berbentuk fisik, maka dipastikan pengerjaannya berlomba-lomba dengan musim penghujan. Akhirnya hasil tidak sesuai dengan harapan.

“Kalau hari ini masih berpikir dengan sistem 15 ataupun 20 tahun yang lalu sangat rugi. Apalagi dana Otsus yang diberikan pusat ke Aceh terbatas waktunya,” kata Fauzi.

Fauzi mengatakan Aceh mendapat dana besar setiap tahunnya. Namun dalam pengerjaan program tetap tidak maksimal. Setiap tahunnya bahkan terjadi sisa lebih penggunaan anggaran atau SILPA.

“Apakah tidak pernah berpikir positif bagaimana menggunakan dana efisien dan bagus? Padahal kita melihat infrastruktur di masyarakat saat ini belum memadai. Uang tiap tahun SILPA, belasan triliun tiap tahun anggarannya, namun kemakmuran rakyat tidak tampak,” ujar Fauzi.

Dia turut mengajak semua pihak untuk merubah pola pikir yang memperlambat program pembangunan daerah. 

“Jangan selalu dengan mudahnya berteriak pembangunan untuk masyarakat, namun realisasinya tidak ada. Semoga ke depan pemerintah kalau ada persoalan, ambillah keputusan sebijak mungkin sehingga tidak merugikan masayarakat, dan sebaliknya jangan mengedepankan kepentingan partai ataupun kelompok-kelompok tertentu,” katanya.[](bna)