Menjelang pilkada Aceh, 15 Februari 2017, salah satu kata yang cukup sering terdengar atau terbaca di media massa adalah kata anarkis. Kata ini biasa dipakai…
Menjelang pilkada Aceh, 15 Februari 2017, salah satu kata yang cukup sering terdengar atau terbaca di media massa adalah kata anarkis. Kata ini biasa dipakai oleh para kuli tinta, pejabat, dan selebritas ini untuk mengimbau masyarakat dari kedua kubu pendukung pasangan calon kepala daerah wakilnya agar menahan diri dan mau terlibat aktif dalam menciptakan kondisi kondusif.
Di kalangan masyarakat Indonesia, tampaknya kata anarkis lebih banyak digunakan daripada anarkistis. Bahkan, kedua kata itu sering digunakan dalam pengertian yang tertukar. Mari kita cermati contoh kalimat berikut ini.
(1) Para buruh yang berdemonstrasi diharapkan tidak melakukan tindakan anarkis.
(2) Preman-preman yang sering melakukan tindakan anarkis telah dibekuk oleh aparat keamanan.
Sesungguhnya, kata anarkis pada kalimat itu tidak tepat. Untuk mengetahui hal itu, kita perlu memahami pengertian anarkis. Menurut Oxford Dictionary, anarchy berasal dari bahasa Latin pada abad ke-16 yang diserap oleh bahasa Inggris yang terdiri atas dua akar kata: an bermakna 'tanpa' dan arkhos bermakna 'pemimpin atau penguasa.
Menurut kamus ini, lema (kata-kepala) anarchy adalah kata benda yang berarti 'situasi di dalam satu negara, sebuah organisasi dll., yang tidak berpemerintahan, tidak ada tatanan/aturan atau kendali (a situation in a country, an organization etc. in which theres no government, order or control).
Dari lema ini muncul [1] kata benda anarchist 'anarkis' yang bermakna 'seseorang yang percaya bahwa hukum dan pemerintahan merupakan hal yang tidak perlu' (a person who believes that laws and government are not necessary) dan [2] kata keterangan anarchistic 'anarkistis' yang berarti 'menjurus atau bersifat anarki'.
Sebetulnya, istilah anarkisme adalah istilah filsafat politik. Namun, dalam praktik mutakhir, sebutan ini dipakai dalam cakupan yang lebih luas, yakni “kekuatan yang menggerakkan keseluruhan hidup manusia yang terus-menerus menciptakan keadaan-keadaan baru, berjuang dalam keadaan apa pun untuk menolak segala sesuatu yang dapat menghambat perkembangan manusia” (Emma Goldman dalam Daniel Hutagalung, Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan [Sean M Sheehan, 2007]).
Selanjutnya, menurut Advanced English-Indonesian Dictionary: Fourth Edition, karya Drs. Peter Salim, M.A., anarchy adalah kata benda yang berarti 'kekacauan; tidak adanya pemerintahan; anarki, sedangkan anarchist yang berkelas kata benda berarti 'penganut paham anarki atau orang yang ingin menggulingkan kekuasaan pemerintahan'. Kamus ini senada dengan KBBI yang mendefinisikan anarkis sebagai 'penganut atau pelaku anarkisme' yang berbentuk nomina atau kata benda, bukan kata sifat. Masih menurut KBBI, kata anarkis bermakna (1) 'hal tidak adanya pemerintahan, undang-undang, peraturan, atau ketertiban'; (2) 'kekacauan (dalam suatu negara)'. Anarkisme bermakna 'ajaran (paham) yang menentang setiap kekuatan negara; teori politik yang tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang'.
Jadi singkatnya, kata anarkis yang berkelas kata nomina yang diserap dari bahasa Inggris anarchist bermakna 'penganjur atau penganut paham anarkisme' atau 'orang yang melakukan tindakan anarki'. Dari pengertian tersebut ternyata kata anarki bermakna 'pelaku', bukan 'sifat anarki'. Padahal, kata yang diperlukan dalam dua contoh kalimat tersebut adalah kata sifat untuk melambangkan konsep 'bersifat anarki'. Dalam hal ini, kata yang menyatakan “sifat anarki” adalah anarkistis, bukan anarkis.
Bagi pengguna bahasa Indonesia, tampaknya kata anarkis mengalami penyempitan makna karena kata ini hanya sering diartikan sebagai kekacauan, keributan, atau kebrutalan. Kekacauan dalam konteks anarki hampir selalu dikaitkan dengan perlawanan terhadap pemerintah, seperti ketika mahasiswa menggelar demonstrasi besar-besaran, bahkan terkesan brutal, untuk memprotes kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM. Para mahasiswa menilai, pemerintah yang sedang berkuasa tidak berpihak kepada rakyat, terutama rakyat miskin. Di situ ada perlawanan terhadap pemerintah, dan mahasiswa menganggap tidak ada pemerintahan yang berpihak kepada rakyat (anarki). Oleh karena itu, dalam orasi mereka, tercetus kata-kata untuk mengganti pemerintahan. Namun, kericuhan di lapangan sepak bola atau di tempat kerja jarang disebut anarki.
Hal terpenting dari tulisan ini adalah ajakan untuk menggunakan kata anarkistis dan anarkis secara tepat. Sekadar catatan, ada banyak bentuk kata yang lain yang berkelas kata sama dengan kata anarkistis, yaitu berkelas kata sifat dan sudah lebih dulu digunakan secara tepat oleh pengguna bahasa Indonesia. Cermatilah kata egoistis, idealistis, individualistis, kapitalistis, materialistis, optimistis, oportunistis, pesimistis, dan pluralistis. Semua kata ini berkelas kata sifat atau adjektiva yang berfungsi menjelaskan kata benda.
Egoistis berarti 'bersifat mementingkan diri sendiri; bersifat egois'. Idealistis berarti 'berwatak seorang idealis'. Individualistis berarti 'bersifat individualis atau mementingkan diri sendiri'. Kapitalistis berarti 'berkenaan dengan sistem kapitalisme; cenderung kepada permodalan pribadi atau pedagang yang besar'. Materialistis berarti 'bersifat kebendaan; mengenai benda'. Optimistis berarti 'bersifat optimis'. Oportunistis berarti 'bersifat oportunis'. Pesimistis berarti 'bersikap atau berpandangan tidak mempunyai harapan baik atau mudah putus harapan; bersikap tidak mengandung harapan baik; (sikap) ragu akan kemampuan atau keberhasilan suatu usaha'. Pluralistis berarti 'banyak macam; bersifat majemuk'.
Di sisi lain, bentukan kata anarkis memiliki konstruksi gramatikal yang sama dengan kata analis, egois, idealis, individualis, kapitalis, linguis, materialis, optimis, oportunis, pianis, pesimis, pluralis, spesialis, dan terapis.
Analis bermakna 'orang yang menganalisis atau melakukan analisis'; egois bermakna 'orang yang selalu mementingkan diri sendiri'; idealis bermakna 'orang yang bercita-cita tinggi'; individualis bermakna 'orang yang tetap mempertahankan kepribadian dan kebebasan diri; penganut paham individualisme; orang yang mementingkan diri sendiri; orang yang egois'; kapitalis bermakna 'kaum bermodal; orang yang bermodal besar; golongan atau orang yang sangat kaya'; linguis 'ahli bahasa'; materialis bermakna 'pengikut paham (ajaran) materialisme; orang yang mementingkan kebendaan (harta, uang, dsb.)'; optimis bermakna 'orang yang selalu berpengharapan (berpandangan) baik dalam menghadapi segala hal'; oportunis 'orang yang menganut paham oportunisme, yaitu paham yang semata-mata hendak mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari kesempatan yang ada tanpa berpegang pada prinsip tertentu'; pianis 'pemain piano'; pesimis bermakna 'orang yang bersikap atau berpandangan tidak mempunyai harapan baik (khawatir kalah, rugi, celaka, dsb.); orang yang mudah putus (tipis) harapan'; pluralis 'kategori jumlah yang menunjukkan lebih dari satu atau lebih dari dua dalam bahan yang mempunyai dualis'; spesialis 'orang yang ahli dalam suatu cabang ilmu atau keterampilan'; dan terapis 'orang yang memberikan terapi'.
Dengan demikian, kata anarkis kedua contoh kalimat yang disebutkan di awal tulisan ini tadi diubah menjadi (1a) Para buruh yang berdemonstrasi diharapkan tidak melakukan tindakan anarkistis. (2a) Preman-preman yang sering melakukan tindakan anarkistis telah dibekuk oleh aparat keamanan.[]
Sumber: Tribun Manado