Klub sepak bola Banda Aceh, Persiraja, telah memiliki nama pada turnamen bergengsi di Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Tentu ini membanggakan pencinta sepak bola Tanah Air, terutama Aceh, apalagi Banda Aceh.

Sejak kecil saya sudah mendengar nama klub ini. Saya ingat, pernah dulu membaca berita di koran, klub ini berlatih di Stadion H Dimurtala, Lampineung. Ketika itu saya berpikir, ternyata orang Persiraja yang klubnya besar dan kaya, tapi berlatih sepak bola di lampoh pineung (kebun pinang)? Seperti di lampoh u (kebun kelapa) di Paloh Dayah, Lhokseumawe, kampungku? Maka saya memperhatikan foto di koran Serambi itu, untuk melihat apakah ada pohon kelapa atau pohon pinang di tepi lapangan.

Saya kecewa, ternyata tidak ada pohon kelapa dan pinang di sisi lapangan. “Apa juga disebut namanya Lam(poh)pineung, tapi tidak ada pohon pinangnya,” celetukku.

Ya, benar, saat itu saya menduga bahwa Persiraja berlatih di kebun kepala atau kebun pinang. Kata Lampineung, menurut pemahaman anak Paloh Dayah Lhokseumawe yang tidak mengetahui budaya nama kampung di Banda Aceh dan Aceh Besar, tentu akan mengira bahwa Lampineung itu adalah lampoh pineung.

Saat itu, dari Paloh Meuria ada satu orang bernama Fakhri Husaini yang menjadi pemain inti tim PSSI. Diratik dari PSLS, lalu ke Persiraja, akhirnya ke PSSI? Salah seorang adiknya, Wan, saya kenal dan termasuk kawan. Kami sering bermain bersama di antara jam pengajian, di pinggir jalan lintas negara, di Paloh Meuria, tetangga Paloh Dayah.

Malam Minggu (Sabtu malam), 30 Juli 2016 adalah kali pertama saya menonton pertandingan klub Persiraja di stadium H Dimurtala, Lampineung. Malam itu tim bermotto “Lantak Laju” ini melawan tim kesebelasan Bintang Jaya, Asahan, Sumatera Utara. Saya pergi dengan Ariful Azmi Usman, seorang wartawan penyuka sepak bola.

Di sepanjang perjalanan kami bicara.

“Apa saya perlu membeli tiket?” Tanyaku.

“Tidak, Bang. Kalau masuk denganku tidak perlu tiket,” kata Ariful, seraya bertanya, “Apa abang bawa ID Card wartawan?”

“O, tidak, itu di dalam tas, dan tidak kubawa. Saya jarang memakai ID itu walaupun sering bepergian,” jawabku.

“Tidak apa-apa,” kata Ariful.

Ariful mengingatkanku pada Wan dan Fakhri Husaini, sehingga membuatku tertarik menonton pertandingan Persiraja, kub sepak bola idola orang Aceh.

Selain ini, yang membuat saya jadi menonton malam itu adalah, bahwa sepak bola disukai banyak orang, hal itu harus didukung, dan saya yang selama ini hanya sering mengikuti acara seni dan kebudayaan, tentu akan memiliki perbendaharaan bahan pikiran lagi tatkala mahu menonton acara olah raga dan lainnya, sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu saya sukai. Perubahan dan kenangan, itulah alasan saya menonton malam itu, sebagaimana dulu pernah menonton pertandingan di kampung atau antarkampung.

Ariful yang dekat dengan pengurus dan pemain Persiraja dapat masuk tanpa tiket, boleh juga memasukkan wartawan lain. Saya duduk di tribun bagian tengah sebelah barat. Pertandingan telah dimulai beberapa menit lalu. Itu adalah pertandingan sejak bola pertama yang saya tonton setelah bertahun-tahun lamanya.

Ini mengakibatkan, penilaianku tentang sepak bola tidak perlu dijadikan acuan oleh pesepak bola. Namun dalam hal membandingkan pertandingan sepak bola dengan pertunjukan seni dan kampanye politik, itu boleh dipercaya oleh umum, karena saya sering menonton pertunjukan seni dan pernah juga menghadiri kampanye politik, bahkan terlibat sebagai tim kampanye.

Apa yang dimiliki Persiraja?

Mari kita bicara tentang pertandingan malam itu, sebuah pertandingan yang menegangkan. Sorak sorai penonton, komentator yang agak pendiam, pemain yang terjatuh karena dilanggar, bahkan ada yang harus keluar lapangan, menambah serunya pertandingan, tepatnya lebih menegangkan.

Sampai peluit panjang babak pertama berakhir, tidak ada seorang pun dari kedua kesebelasan yang berhasil mencetak gol. Persiraja, yang merupakan tuan rumah, berkali-kali berusaha menembus jaring gawang Bintang Jaya, tidak berhasil, walaupun setelah serangan bertubi-tubi dilancarkan.

Itu menandakan, tim Bintang Jaya memang telah menyiapkan dirinya dengan baik untuk pertandingan malam itu. Mereka datang dari jauh dengan pendukung terbatas, sementara Persiraja di kampung sendiri dengan 70 persen lebih penonton merupakan mendukungnya, ditambah lagi disemangati oleh sebuah grup marching band yang menabuh musik dengan nyanyian Mars Persijara yang membahana di stadion H Dimurtala. Tapi sampai babak pertama berakhir, kedudukan masih 0-0.

Lemparan botol minuman ke lapangan di bagian tribun seberang sempat menghentikan pertandingan selama beberapa menit. Saya tidak tahu pendukung keseblasan mana yang melanggar keamanan itu, juga saya tidak tahu mengapa. Kemudian, selang beberapa bangku di seberang pagar kawat tempat dudukku, seorang penonton melempar botol minuman ke atas tribun panitia, lalu seorang petugas datang melarang orang itu.

“Ini, sepak bola, memang pertandingan yang kasar. Semua pertandingan olah raga bertujuan menang. Ini berbeda sangat dengan festival seni. Kalau olah raga mengandalkan persaingan, pikiran, dan semangat keras, dan pendukung yang berjiwa tanding, akan tetapi seni mengandalkan rasa, keindahan, dan pendukung yang lembut,” pikirku.

Saya tidak akan mencari tahu itu siapa dan mengapa, karena pertandingan sepak bola, menurutku memang pertandingan adu menang dan kalah, yang melibatkan semangat untuk menang, bahkan dengan curang sekalipun. Itu yang dilakukan tim Bintang Jaya, tidak oleh tim Persiraja.

Saya teringat kara Ariful, ketika tim Persiraja bertanding ke luar Aceh, baik di Pulau Sumatra mahupun pulau lainnya, selalu mendapatkan perlakukan tidak enak seperti diancam dan sebagainya. Bahkan, saat mengikuti pertandingan ke Sumatera Utara waktu lalu, ada orang yang mengancam dengan kata-kata yang ditulis di kertas, “kami menang atau kalian mati” lalu diludahi. Walaupun begitu, tim dan pendukung Persiraja tidak pernah mengasari tim lain dan pendukungnya yang bertanding ke Aceh. Hal itu menandakan, orang Aceh memang memiliki peradaban yang lebih tinggi. Saya teringat, ada orang yang mempertanyakan tentang kebenaran sejarah Aceh. Katanya, kalau memang kita dulu berperadaban tinggi, maju, beradab, mana buktinya sekarang, orang-orang kita korup, jahat, saling bantai, dan sebagainya.

Pertanyaan itu terjawab di karakter pemain dan pendukung Persiraja, tidak akan mengasari orang lain walaupun ia kasar saat kita ke rumah mereka, dan tetap menghormati mereka sebagai tamu saat mereka ke rumah kita, walaupun bermain kasar, sepertin tim Bintang Jaya malam itu. Saya bangga, bahwa di dalam sepak bola itu saya temukan karakter Aceh yang beradab. Tidak dendam dan tetap santun. Saya akan menonton lagi setiap pertandingan Persiraja ke depan. Mereka memiliki semangat Aceh.

Sepertinya, tim dan pendukung sepak bola agak lebih baik daripada tim dan pendukung partai politik atau calon-calon di Aceh. Sekali lagi, saya bangga dengan itu, bahwa Aceh memang bangsa beradab. Namun yang menjadi ironis, itu terlihat di sepak bola, bukan panggung politik dan seni.

Kembali pada Persiraja. Berdasarkan pertandingan malam itu, saya menilai tim yang mengisi kesebelasan ini sekarang memiliki semangat besar untuk menjadi juara kembali sebagaimana pernah diraih oleh pendahulu mereka. Namun, segala sesuatu untuk mendapatkannya masih kurang. Saya terpikir, sekiranya wali kota, atau wakil wali kota, atau kadispora ikut menonton setiap pertandingan sepak bola tim Persiraja, saya meyakini tim ini akan sulit dikalahkan. Sebab selain keinginan dirinya, niscaya keinginan untuk menghormati dan membanggakan pemimpin, menjaga kehormatan dan nama baik wilayah dan negeri akan menambah semangat untuk memenangkan pertandingan. Saya memahami arti sebuah semangat dan rasa serta reaksi dari sebuah heroism atas kehadiran orang yang dihormati. Hal itu yang dilakukan dengan baik oleh Hitler dalam menyemangati jutaan tentaranya pada Perang Dunia II, hal itu pula yang digunakan Erdogan dalam memimpin negara Turki modern.

Saya menghayal malam itu, sekiranya wali kota atau wakil wali kota atau kadispora Kota Banda Aceh, di sela masa istirahat pergantian babak pertandingan, bebicara di mikrofon menggantikan komentator selama satu menit, misalnya ia berkata begini:

“Saya wali kota/wakil wali kota/ kadispora Banda Aceh. Saya datang untuk mendukung kalian, para pemain Persiraja. Bermainlah dengan baik sebagai bangsa beradab. Saya di sini, bersama seluruh rakyat kota dengan harapan dapat menyaksikan kalian menang. Berusahalah, dan berdoalah untuk memenangkan pertandingan ini. Kepada seluruh rakyat yang hadir, semangatilah para pahlawan kita yang tengah bertempur di lapangan.”

Begitu khayalku malam itu. sendainya pejabat itu hadir di tiap pertandingan di Banda Aceh atau luar Aceh, jumlah kemenangan akan lebih banyak.

Malam itu Persiraja menang 1-0 atas Bintang Jaya, melalui tendangan pinalti oleh Fadhil pemilik nomor punggung 10.

Sekiranya pejabat penting itu menghadiri setiap acara olah raga atau seni atau apa saja yang mewakili wilayah dan negeri, tentu cerita kita akan berbeda.[]

Thayeb Loh Angen, penulis novel Aceh 2025.