BANDA ACEH – Mantan juru runding Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Bachtiar Abdullah, mengajak masyarakat Aceh untuk menyambut 4 Desember dengan tujuan mengenang kembali perjuangan rakyat Aceh. Dia juga mengajak semua pihak untuk mengenang para korban yang telah gugur ketika konflik antara GAM dan RI, yang berakhir dengan perjanjian perdamaian MoU di Helsinki 10 tahun lalu.

“Bersamaan dengan ini juga, mari kita sama-sama memanjatkan doa kepada Allah semoga orang-orang yang terkena imbas selama konflik di Aceh, diberikan kesabaran dan ketabahan dan kita berharap agar mereka selalu tawakal dalam menghadapi segala cobaan. Tak lupa pula kepada mereka yang kehilangan orang yang di sayang, kita berdoa, semoga saudara kita yang telah lebih dahulu menghadap Ilahi, agar diluaskan kuburnya dan ditempatkan bersama para Aulia dan para Anbiya. Amin,” ujar Bachtiar Abdullah melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Kamis, 3 Desember 2015.

Dia juga mengajak untuk membuat muhasabah GAM dalam momen peringatan hari ulang tahun kali ini. 

“Mari kita menoleh kebelakang agar kita tau apa yang perlu kita perbaiki dan perbuat demi tercapainya cita-cita kita yaitu untuk menaikan marwah dan martabat bangsa Aceh di mata dunia,” katanya.

Menurutnya perjuangan ini tidak selesai dengan hanya menandatangani perdamaian saja. Pasalnya perjanjian damai itu adalah permulaan dari pekerjaan yang lebih besar di hadapan masyarakat Aceh.

“Saat ini kita telah memasuki ajang perjuangan politik yang sangat kompleks dan rumit, yang penuh dengan rintangan, tantangan dan cabaran. Kalau dulu kita berperang dengan senjata, dengan mudah kita bisa tahu siapa musuh kita, tapi dalam  konteks perjuangan politik kita tidak tau siapa lawan dan siapa kawan, sehingga kalau kita lalai, maka kehancuran akan menimpa kita bangsa Aceh yang mulia,” ujarnya lagi.

Hari ini, kata dia, GAM telah setuju dan komit dengan perdamaian dengan berpegang pada perjanjian damai di Helsinki. Karenanya komitmen ini harus dipenuhi secara bersama-sama, baik GAM maupun RI.

“Bagi kita, cara memperjuangkan seluruh isi dari MoU adalah dengan mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan rakyat Aceh daripada kepentingan peribadi atau kelompok. Karena MoU ini adalah kepunyaan bangsa Aceh, bukan kepunyaan GAM atau kelompok tertentu,” katanya.

Dia mengatakan jika dulu semua pihak mampu bertahan atas dukungan moral dan material dari bangsa Aceh, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bisa memperjuangkan semua butir-butir MoU itu sampai tuntas demi kepentingan bersama dalam keadaan damai begini.

“Sebab itulah perlunya kita menggunakan langkah-langkah yang bijak dan strategi yang cerdas agar semua berjalan seperti yang kita harapkan. Kita sadar bahwa pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang gampang dan bisa diselesaikan dengan cepat, tapi dengan kebersamaan, Insya Allah kita bisa menyelasaikannya,” ujarnya.

Dia mencontohkan masalah bendera dan lambang dalam konteks damai, yang sampai hari ini masih belum selesai. Menurutnya jika mau merubah semua cara kerja dengan mekanisme demokratis yaitu dengan menerima masukan dan aspirasi dari rakyat Aceh, maka hal itu telah lama bisa dituntaskan.

“Akibat dari berlarut larutnya persoalan yang tak penting itu, maka hal-hal lain yang lebih penting seperti kesejahteraan rakyat, KKR, HAM dan yang lain-lain terabaikan begitu saja, malah terlepas dari fokus. Belum lagi dalam hal menyantuni anak yatim, korban konflik dan kaum dhu’afa yang masih jauh dari apa seharusnya kita buat. Kalau masalah yang utama ini tidak kita laksanakan sesegera mungkin, maka jangan harap Aceh bisa bangkit untuk maju walau Aceh mempunyai kekayaan yang berlimpah-ruah,” katanya.

Menurutnya perjuangan ini tidak akan pernah berhasil kalau di kalangan mantan kombatan GAM masih bertikai antar sesama.

“Karena itu GAM wajib utuh dan solid sebagai sebuah organisasi politik yang masih eksis dan harus bisa menjadi perisai bangsa Aceh untuk memperjuangkan kelanjutan semua butir-butir MoU Helsinki sehingga selesai,” ujarnya.

Menurutnya peluang baik ini ada di depan mata dan tidak bakal terulang untuk kedua kalinya. “Sebab itulah kalau kita punya itikad dan niat yang baik, maka kita harus merubah cara dan pola pikir kita kepada pola pikir yang diterapkan oleh Rasullullah SAW. Semua ini demi kemaslahatan bangsa Aceh,” katanya.

“Kita perlu mengambil langkah-langkah yang lebih arif yaitu dengan mendekatkan diri kita kepada ulama, umara, tokoh-tokoh masyarakat, elemen sipil dan sesepuh GAM untuk mendapatkan nasehat serta menambah lagi wawasan kita dalam hal mencari solusi tentang Aceh terutama masalah MoU Helsinki,” katanya.[]