Oleh: Azhar Ilyas* LAHIR di Japakeh, Banda Aceh, 6 Juli 1987 silam, sejak lahir Zulfadli Aldiansyah tidak bisa berjalan. Aldi, demikian ia biasa dipanggil, hanya…
Oleh: Azhar Ilyas*
LAHIR di Japakeh, Banda Aceh, 6 Juli 1987 silam, sejak lahir Zulfadli Aldiansyah tidak bisa berjalan. Aldi, demikian ia biasa dipanggil, hanya bisa merangkak hingga usia sembilan tahun. Ia mengandalkan bantuan orang-orang di sekitarnya untuk bisa bepergian. Untuk berkomuniasi Aldi juga mengalami kesulitan.
Saat usia delapan tahun, ia dan keluarganya pindah ke Asgab TNI di Keupatang Dua, menetap hingga saat ini. Menurut cerita yang dituturkan Aldi, ibunya melahirkan normal dengan posisi kaki duluan atau sungsang. Karena mendapat sentakan yang sangat kuat, Aldi mengalami gangguan syaraf yang menyebabkan ia tumbuh sebagai penyandang disabilitas.
Meskipun hidup sebagai penyandang disabilitas, Aldi tak ingin berputus asa dan menjadi beban orang lain. Atas dasar itulah, Aldi kemudian mulai bergabung dengan komunitas pada saat usianya beranjak remaja dewasa. Tepatnya pada tahun 2005 atau tidak lama setelah musibah tsunami melanda.
Pada waktu itu, Aldi bergabung dengan relawan RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia). Pergaulannya dengan relawan RAPI membuat Aldi dapat berkenalan dengan banyak relawan se-Provinsi Aceh. Baru pada tahun 2012 Aldi menyudahi masa baktinya di komunitas relawan informasi tersebut.
Selepas dari RAPI, Aldi kemudian bergabung dengan Young Voice, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang membahas issue-issue disabilitas. Young Voice merupakan lembaga internasional yang concern terhadap issue-issue disabilitas yang memiliki cabang di Jakarta dan Banda Aceh.
Di Young Voice, Aldi banyak memperoleh bekal terkait pemahaman mengenai perlindungan dan pemberdayaan disabilitas. Aldi berhasil menghafal pasal demi pasal dalam UU Disabilitas lama, padahal jumlah pasal dalam undang-undang tersebut mencapai 50 pasal.
Selain itu Young Voice mengadakan pembekalan dan pelatihan antara lain mengenai advokasi, public speaking dan kepemimpinan. Bersama Young Voice, Aldi dapat lebih menyuarakan hak-hak para penyandang disabilitas khususnya di kota Banda Aceh.
Ikut serta dalam berbagai organisasi sangat membantu Aldi untuk meningkatkan kepercayaan dirinya. Aldi juga tidak jarang tampil bernyanyi untuk konser amal dan berbagai kesempatan lainnya. Dengan demikian, Aldi dapat menunjukkan bahwa sebagai seorang penyandang disabilitas, ia dapat menginspirasi teman-temannya baik sesama penyandang disablitas maupun non-disabilitas untuk dapat terus berkarya secara positif.
Aldi yang menyukai traveling dan menyanyi ini saat ini tercatat aktif di berbagai komunitas, antara lain Jalan-jalan Seru (JJS) Banda Aceh, Earth Hour Aceh dan Forum Kolaborasi Komunitas. Aldi juga ikut serta dalam organisasi Young Voice, Gerakan Pemuda untuk Perubahan (Gempur), Sekolah HAM, Solidaritas Donor Darah Aceh (Sodara), dan sebagainya.
Atas niat ingin memperjuangkan nasib para penyandang disabilitas khususnya di kota Banda Aceh, Aldi berinisiatif mendirikan komunitas Gerakan untuk Disabilitas (Gertas). Gerakan ini menghimpun pemuda-pemudi yang peduli terhadap issue-issue disabilitas, seperti kesempatan untuk mengakses layanan pendidikan dan kesehatan secara setara (inklusi) serta kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak.
Aldi berharap, ke depannya pemerintah kota Banda Aceh dapat membuat sebuah peraturan wali kota (Perwal) agar dapat menerjemahkan UU Disabilitas No. 8 Tahun 2016 dalam pembangunan sarana dan pra sarana di kota Banda Aceh. Hal ini menjadi bahasan serius bagi komunitas Gertas yang baru diluncurkan pada Minggu, 30 April 2017 yang lalu di sebuah kafe di Lamprit, Banda Aceh.[]
*CEO I Love Songket Aceh dan anggota Forum Kolaborasi Komunitas