MUSIM panas kali ini hadir di Denmark sedikit berbeda, lebih singkat dari biasanya. Namun, masyarakat Denmark sudah mengantisipasinya. Salah satunya mengadakan acara musim panas lebih awal dan dimanfaatkan oleh mereka dengan sebaiknya, dengan beragam kegiatan yang diadakan di berbagai tempat, seperti di tengah kota, di taman, ataupun tempat-tempat yang disediakan. Demikian acaranya juga sangat beragam, mulai dari olah raga, pameran, kegiatan sosial hingga tampilan seni dan budaya.
Siang itu di Kota Aalborg, salah satu kegiatan yang diadakan pada akhir minggu bulan Juli ini adalah keanekaragaman seni dan budaya Mangfo Idighedsdag 2016 atas kerjasama 6 organisasi internasional, antara lain Red Cross, Red Barnet Ungdom, Ungdommens Red Cross, Asylforum (Forum Suaka Politik), DFUNK, Danske Handicaporganisationer (Organisasi untuk orang cacat dan difabilitas), dan Network Dobbeltminoriteter (Gabungan organisasi minoritas) yang terdiri dari 9 organisasi, salah satunya World Acehnese Association (WAA)
Kegiatan seni dan sosial tersebut dimanfaatkan sebaiknya oleh masyarakat Aceh di Denmark yang tergabung dalam WAA di Denmark, salah satunya yang ikut ambil bagian adalah grup Putro Aceh untuk menampilkan tarian-tarian Aceh. Bagi masyarakat Aceh di sana dan lembaga-lembaga sosial di Eropa mengenal WAA sebagai salah satu organisasi yang sudah lama eksis dalam melestarikan tradisi, budaya dan isu-isu sosial Aceh, dan kini diketuai oleh Nek Hasan Basri.
Acara keanekaragaman kali ini yang diikuti oleh WAA dan Putro Aceh dengan menampilkan tarian Ranup Lampuan dan Rateb Meuseukat. Dua tarian yang cukup mashyur seantero Nusantara. Tarian tersebut ditampilkan oleh anak-anak Aceh di Denmark yang dilatih oleh Nurmala dapat memukau para penonton di kota Aalborg. Sebelum tampil acara tarian yang pertama, tarian Ranup Lampuan, ketua WAA menyampaikan sekilas informasi tentang Aceh dan komunitas Aceh di Denmark kepada penonton yang hadir.
Sebagai pembukaan, tarian Ranup Lampuan sebagai simbol penyambutan welcome to Aceh yang ditampilkan oleh anak-anak berumur antara 7-10 tahun. Mereka cukup lincah untuk ukuran anak-anak Aceh yang tidak pernah mengenyam pendidikan tari ataupun tidak pernah menikmati keunikan di Aceh.
Pada sesi selanjutnya, anak-anak Aceh di Denmark kembali tampil dengan jumlah lebih banyak untuk menampilkan tarian Rateb Meuseukat. Sebuah tarian heroik Aceh yang membutuhkan kecekatan, kecepatan dan konsentrasi penuh serta kekompakan tim. Lagi-lagi, bagi saya mereka sudah cukup baik penampilannya, jika tidak ingin kita sebut profesional.