Aceh merupakan sebuah wilayah yang dihuni beragam suku bangsa -kosmopolit. Sebagaimana budaya geografi dunia, di dalam sebuah wilayah akan ada sebuah kafilah (kelompok) yang terbesar, namun keberadaannya bersedia memberikan kebebasan bersikap pada kafilah yang lebih kecil. Mereka tidak punya musuh selain dari luar kalangan mereka sendiri, di dalam semuanya saudara.
Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya orang yang berhasil membentuk peradaban seperti ini, saat pertama kali mendirikan negara Islam di Yasrib yang kemudian disebut Madinah. Pola ini pun pernah diberlakukan oleh kepemimpinan berikutnya, seperti di Baghdad, Damaskus, dan yang terakhir di Konstantinopel setelah ditaklukkan oleh Sultan Mehmet Al-Fatih dan kemudian berganti nama menjadi Islambul dan kemudian berganti sebutan menjadi Istanbul.
Menyiapkan Aceh Baru
Sejak Kesultanan Samudra Pasai dan Aceh Darussalam, Aceh telah menjadi negara yang memiliki ibukota kosmopolit dalam bidang ras. Ada turunan India, Persia, Yaman, Turki, Cina, dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan berbaur dengan masyarakat setempat dan menjadi generasi majemuk.
Sejak zaman yang tidak tercatat, diperkirakan, Aceh telah memiliki keyakinan hiduh yang kukuh. Aceh sudah menganut sikap menghormati pihak yang berbeda keyakinan. Saat Islam datang, itu dilanjutkan dengan ayat Lakum Dinukum Waliyadin serta kewajiban melindungi kafir zimmi.
Kini pun diharapkan, Pemimpin Aceh adalah orang yang berhasil menjadi rujukan oleh semua golongan, baik dari golongan besar mahupun kecil. Aceh akan bisa bangkit tatkala memakai konsep ini kembali dengan pikiran dan hati terbuka. Akan ada orang yang nantinya mampu melakukan dan berhasil menepis semua ide sebaliknya secara logis.
Aceh butuh seorang atau beberapa orang ideology. Ideolog adalah orang yang punya ideologi dan mampu mengajak orang banyak untuk percaya pada ide-idenya. Pada abad terakhir, di Aceh, melahirkan seorang Hasan Tiro sebagai ideolog. Di masa sebelumnya ada Sultan Ali Mughayatsyah, Sultan Al-Kahar Yang Agung.
Kita bermimpi, seorang pemimpin baru yang dilsuf bisa segera hadir. Ia boleh dari kalangan akademisi, politisi, dayah, atau kalangan tanpa pernah masuk universitas dan dayah sekalipun, akan tetapi mampu memahami hal yang terjadi, mampu menjawab permasalahan dengan bijaksana.
Aceh masa depan adalah milik kita bersama, pemimpin masa depan adalah orang yang kita bentuk. Dayah dan kampus, tidak lagi memiliki hak utama dalam melahirkan pemimpin Aceh masa depan.