BANDA ACEH Oktober merupakan Bulan Peduli Disleksia Internasional. Karenanya, para pegiat disleksia pada setiap negara bergerak mensosialisasikan disleksia agar masyarakat paham, termasuk Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI) cabang Aceh.
Lembaga Pendidikan RUMAN (Rumah Baca Aneuk Nanggroe) Aceh mengikuti open discussion (diskusi terbuka) peduli disleksia yang diselenggarakan oleh ADI Cabang Aceh di PAUD/TK Putik Meulu, Banda Aceh pada Sabtu 17 Oktober 2015.
Tema yang diangkat adalah deteksi dini kesulitan belajar anak di usia PAUD dan TK. Hadir dalam kegiatan itu Direktur RUMAN Aceh, Ahmad Arif, didampingi sekretarisnya Riski Sopya S.Pd, beserta 7 orang tim TK Gratis Dhuafa dan bimbingan belajar gratis RUMAN Aceh.
Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia Cabang Aceh, dr. Munadia, Sp.KFR (Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi) mengungkapkan bahwa secara sederhana, disleksia adalah istilah yang menunjukkan adanya kesulitan belajar pada seorang individu yang cerdas.
Yakni, kesulitan dalam berbahasa lisan, belajar membaca dan memahami bacaan, mengeja kata-kata yang mudah sekalipun, memahami instruksi, menulis sesuai kaidah dan atau kesulitan memahami matematika.
Disleksia, lanjut Muna, tidak disebabkan karena kebodohan, melainkan karena factor genetik. Disleksia disandang seumur hidup. Namun, jika dikenali sejak dan diintervensi sejak dini, maka kelak akan menjadi individu yang berhasil.
Masyarakat belum mengenal dan memahami individu disleksia. Padahal, dari 10 individu, 1 di antaraya adalah individu disleksia. Potensi individu disleksia sangat tinggi, namun diusia dini dan di jenjang pendidikan mereka dikenal dengan label anak malas, lamban, tidak fokus, suka menghayal pemberontak, dan banyak label negatif lainnya.
Dengan mengenal, memahami karakter mereka, cara mereka berfikir, dan yg paling penting memberikan akomodasi pendidikan yang tepat, maka kita akan bisa menyelamatkan anak-anak cerdas yang kelak bisa membangun bangsa, urai Muna yang sehari-hari bertugas di RSIA (Rumah Sakit Ibu dan Anak) Banda Aceh.
Di akhir acara, dr. Muna menghadiahi RUMAN Aceh dua buku berjudul, Dyslexia Today Genius Tomorrow” dan “Ceritaku”. Buku tersebut akan disajikan pada kegiatan MIBARA (minggu baca rame-rame) di lapangan Blang Padang setiap Minggu pagi.
Khusus untuk MIBARA ke 52 esok (Ahad, 18/10/2015). Selain menyajikan buku hadiah tersebut, juga akan membagikan brosur Dyslexia Awareness for All kepada para pengunjung dan peminjam bacaan, ujar Ahmad Arif, Direktur RUMAN Aceh. [] (mal)