TERKINI
ENTERTAINMENT

Aceh, Kemana Langkahmu?

Secara de facto, Aceh tidak dijajah selama itu. Kita hanya kurang dari setengah abad hidup dalam administratif pemerintah penjajah

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 1.4K×

10 tahun lebih sudah usia damai Aceh. Sepanjang itu kita merasakan hal yang berbeda dari perjalanan sejarah. Kita menemukan diri dalam hidup yang lebih nyaman. Kekhawatiran atas keselamatan kita berkurang. Rasa saling curiga menurun. Namun semua itu belumlah cukup untuk memulihkan kesakitan puluhan tahun.

Puluhan tahun hidup dalam konflik masih amat membekas, bahkan masih mewarnai dalam tingkah laku kita saat ini. Sebab tingkah laku itu salah satu faktor pembentuknya adalah pengalaman masa lalu. Masih amat panjang waktu dibutuhkan. Agar luka puluhan tahun itu sembuh. Masih amat banyak luka di sana sini yang perlu diobati. Terutama luka pada jiwa kita.

Pernahkah Anda membaca tulisan sang deklarator Aceh Merdeka, Hasan Tiro? Kutipan-kutipan semangat yang dikobarkan atas nama ke-Acehan. Diakui atau tidak, tulisan-tulisannya atau pernyataan-pernyataannya membangkitkan kembali “identitas” kita sebagai etnik Aceh.

Penulis-penulis Belanda di masa perang banyak menceritakan kehebatan orang- orang Aceh. Walau mereka adalah penjajah. Kemudian para penulis sejarah juga banyak meneliti dan menulis sejarah Aceh. Mereka mengakui kegemilangan masa lalu kita.

Dalam sejarah nasional kisah ini redup. Kita Aceh hanya sebuah serpihan sejarah nasional. Kita terlena dengan sejarah bahwa Indonesia dijajah 3,5 abad. Padahal secara de facto, Aceh tidak dijajah selama itu. Kita hanya kurang dari setengah abad hidup dalam administratif pemerintah penjajah. Itu pun diwarnai perlawanan sepanjang waktu.

Bila pahlawan daerah lain melawan Belanda banyak terkait primordial dan kekuasaan. Maka di Aceh pahlawannya sebagiannya adalah orang kebanyakan. Bila bagian nusantara lain kaum hawanya masih meringkuk di bawah ketiak suami. Di Aceh sejak zaman klasik sudah dipimpin wanita. Bahkan pemimpin perang sekalipun.

Dan Hasan Tiro-lah yang meramu semua sejarah dan kenyataan itu untuk mengenal kembali identitas kita sebagai orang Aceh. Hasan Tiro-lah yang memberi kita sedikit kebanggaan sebagai orang Aceh. Karena kesadaran itu kemudian lahir pemberontakan di Aceh. Aceh merasa “dikadali” atas semua pamrih untuk Republik ini.

Kita pemilik saham yang besar atas lepasnya negeri ini dari penjajah. Kini kita diberi banyak keistimewaan “setengah hati” oleh Pemerintah Pusat. Kemana akan kita bawa Aceh? Kemana Aceh dibawa, kitalah yang menentukan. Kita sudah sepakat dalam pilihan bernegera bahwa kita bagian dari Indonesia. Maka semua kemegahan, kegemilangan dan kelebihan Aceh harus menjadi bagian integrasi menuju Indonesia yang lebih baik.

Saat ini kita dipimpin kaum pejuang. Saat ini kita berlimpah uang. Namun sepanjang 10 tahun ini kita masih mengalami banyak “cupa”. Banyak alpa terutama para pemimpin dan elite kita. Momentum limpahan uang pascatsunami dan perdamaian gagal kita produktifkan. Kita gagal memperkuat kesejahteraan dan keadilan.

Kita gagal menyambung kegemilangan walaupun dunia telah menyediakan karpet merah untuk itu. Moyang kita bisa begitu hebat tanpa bantuan orang lain. Tapi Aceh kini gagal melanjutkan walau telah dipapah banyak orang. Mengapa demikian? Mungkin sifat inferiotas kita sudah amat tertanam dalam jiwa kita.

Lihat saja para pemimpin kita. Hampir tak mengenal diri mereka. Walaupun mereka dulunya “krak” pejuang. Mereka yang umumnya langsung hidup dan belajar pada sang idiolog Hasan Tiro. Ketika menjadi pemimpin Aceh kini rasanya semua tak berbekas. Jargon-Jargon perjuangan hilang seperti embun pagi ketika menjadi eksekutor. Rakyat memilih mereka karena menduga benar perkataannya. Namun apa lacur kini rakyat kecewa. Rakyat resah kemana Aceh dibawa ke depan?

Peringatan 10 tahun perdamaian kembali mengusik memori rakyat. Bahwa perdamian sejatinya memberi mereka kesejahteraan dan keadilan. Yang mereka tahu Aceh daerah khusus dan berlimpah uang. Tapi mengapa mereka masih lebih miskin dan terbelakang dari saudara-saudaranya di belahan nusantara lainnya. Dan pertanyaan itu seharusnya dijawab para pemimpin. Bukan dengan mulutnya. Tapi dengan bukti nyata. Dengan kerja keras pemimpin kita.

Maka wahai pemimpin, jawablah pertanyaan kami. Kemana kami Anda bawa? Kami butuh bukti. Bukan jargon dengan segala tipu daya. Kami lelah dan hampir putus asa. Jangan sampai rakyat kemudian menabalkan Anda sebagai musuh baru kami. Takutlah akan hal itu![]

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar