BANDA ACEH Pakar Ekonomi Unsyiah M. Shabri Abd. Majid mengatakan, kondisi Aceh saat ini sangat memprihatinkan. Pasalnya, penduduk di perkotaan semakin makmur dan terbebas dari kemiskinan, sedangkan di pedesaan makin banyak orang miskin.
Ditemui portalsatu.com, Selasa, 5 Januari 2016, Shabri mengatakan, saat ini orang-orang yang dekat dengan kekuasaan lebih mudah akses dan mendapatkan nikmat yang lebih tinggi. Padahal, kata dia, program pengurangan kemiskinan seharusnya menyentuh kantong-kantong masyarakat miskin itu.
Karena kita lihat nikmat atau rahmat dana pembangunan di Aceh hanya dinikmati oleh segelintir orang tertentu yang kehidupannya semakin mewah. Sementara masyarakat desa tidak mendapatkan jumlah dana pembangunan yang memadai dan adil, kata Shabri.
Ironisnya lagi, menurut Shabri, Aceh bukan hanya miskin dari segi angka/persentase, melainkan juga miskin dari segi moral, kejujuran dan sifat amanah.
Hal ini terlihat dalam gagalnya (Pemerintah Aceh) menyejahterakan rakyat, ujar Shabri yang juga Ketua Program Studi Ekonomi Islam Unsyiah Banda Aceh ini.
Sebelumnya diberitakan, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat jumlah penduduk miskin di daerah ini bertambah sebanyak 8 ribu orang, yakni dari 851 ribu orang pada Maret 2015 menjadi 859 ribu orang pada September tahun ini.
“Salah satu faktor kenaikan jumlah penduduk miskin ini ada di pedesaan sebab ekonomi di pedesaan belum bergerak dengan baik,” kata Kepala BPS Aceh, Hermanto di Banda Aceh, Senin 4 Januari 2016. (Baca: BPS: Penduduk Miskin Aceh Bertambah Delapan Ribu).[] (idg)