TERKINI
GAYA

Aceh dan Mantra (Bagian III)

Neurajah tak asal diwariskan. Hanya orang-orang spesial yang dipandang berhak mewarisi, memiliki, dan menggunakannya.

M FAJARLI IQBAL Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 1.2K×

Karena sifatnya sakral, neurajah tidak boleh diucapkan oleh sembarang orang. Hanya pawang/dukunlah yang berhak dan dianggap pantas mengucapkan neurajah. Pengucapannya pun harus disertai dengan upacara ritual, misalnya asap dupa, duduk bersila, gerak tangan, dan ekspresi wajah.

Ada neurajah yang harus diucapkan secara keras dan ada juga yang harus diucapkan dengan suara pelan. Hanya pawang atau dukunlah yang mengetahui bagaimana mendatangkan kekuatan gaib melalu neurajah. Ini berarti neurajah mempunyai kekuatan, bukan hanya dari struktur kata-katanya, tetapi juga dari struktur batinnya.

Neurajah tak asal diwariskan. Hanya orang-orang spesial yang dipandang berhak mewarisi, memiliki, dan menggunakannya. Pawang atau dukun sebagai penerus yang mampu menggunakan neurajah untuk hal-hal baik dikategorikan sebagai “orang tua”. Orang tua inilah yang berhak ditugasi untuk melakukan kegiatan tertentu, seperti acara permulaan memetik padi, peusijuk, dan lain-lain sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masing-masing dalam hubungan dengan Sang Pencipta.

Neurajah tidak hanya digunakan untuk hal-hal baik, tetapi juga untuk hal-hal yang dianggap kurang baik, seperti neurajah pemikat, peurabôn (hilang, tidak tampak di mata orang), pemanis, dan pengasihan. Pemanfaatan untuk hal-hal yang tidak baik ini sudah jarang ditemui karena keyakinan masyarakat tentang agama sudah semakin kuat dan pola pikir sudah lebih maju. Bagaimana isi neurajah? Berikut contohnya! Neurajah ini disebut Peutawa Barah.

Bismillahirrahmanirrahim

Tuan ta’ali timoh barah

Rasulullah neukheun hana lé

Tren phéreuman nibak Allah

Cut ngon  barah pih hana lé

Barah kubantôt

Cut kubantôt

Cong kubantôt

Cumuet kubantôt

Keuliki jie keulikah

Keuliki jie keulikah

Keuliki jie keulikah

Teudong tamèh kakbahtullah

Allah neukheun hana lé

Kabui digurèe tajam do’aku

Beureukat Lailaha illallahu

Berdasarkan neurajah tersebut, ada beberapa ciri pokok neurajah, yaitu pilihan kata sangat saksama, bunyi-bunyi diusahakan berulang-ulang dengan maksud memperkuat daya sugesti kata, banyak menggunakan kata yang kurang umum dipakai dalam kehidupan sehari-hari, jika dibaca dengan keras menimbulkan efek bunyi yang bersifat magis; bunyi tersebut diperkuat oleh irama dan metrum yang biasanya hanya dipahami secara sempurna oleh pawang/dukun yang membaca neurajah secara keras. Bersambung…[]

M FAJARLI IQBAL
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar