Setiap kita bercerita tentang APBA maka hal pertama muncul adalah jumlahnya yang wah. Uang belasan triliun itu amatlah menyilaukan. Sayangnya uang itu tidak sepenuh dinikmati pemiliknya.
Kita sering mendengar jargon” uang rakyat”. Yaitu pernyataan semua pihak terkait anggaran pemerintah. Benarkah begitu? Idealnya memang begitu. Pada kenyataannya anggaran itu tidak lebih mainan penguasa. Alat yang utama mendorong mereka merebut kekuasan. Mendorong mereka menempuh apapun untuk menjadi pengelola anggaran. Sebab kebanyakan orang orang berkuasa melihat anggaran sebagai setumpuk rezeki yang bisa didapat tanpa kerja keras. Tak penting yang mereka dapat itu haram atau halal.
Setiap tahun kita membaca realisasi yang buruk. Tender terlambat. Pelaksanaan bermasalah. Silpa yang besar. Petanggungjawaban yang buruk. Dan segala yang buruk-buruk. Kita seperti di lingkaran setan yang tak berujung. Tidak pernah satu tahun anggaran pun sesuai dengan harapan. Baik pola penganggaran maupun pelaksanaannya. Entah dimana dimulai kesalahan ini sehingga terus berulang.
Sejak 2008, Aceh berlimpah uang. Namun kehidupan rakyat masih “na beungoh, tan seupot”. Data statistik menunjukkan tidak ada pengurangan angka kemiskinan yang konstan. Angka kemiskinan fluktuatif seiring cairnya anggaran belanja pemerintah. Ini menunjukkan ekonomi Aceh sangat primitif. Sektor swasta berperan amat minim mendorong pertumbuhan ekonomi. Dunia usaha yang ada tergantung pada beredarnya uang pemerintah.
Sayangnya para pengambil kebijakan di tampuk kekuasaan Aceh lupa atau tidak paham hal ini. Sementara di kabupaten kota anggarannya tersedot untuk belanja pegawai dan belanja rutin pemerintah. Sesuai dengan otonomi khusus Aceh yang berpusat di propinsi, maka seharusnya pemerintah Aceh yang berlimpah uang seharusnya mau mendorong pemanfaatan anggaran untuk pertumbuhan ekonomi yang berbasis sumber daya. Mendorong lahirnya nilai tambah komoditas lokal.
Kenyataannya pemerintah Aceh tidak punya sense of bisnis. Maka lahirlah program yang bermuara bagaimana menghabiskan anggaran. Bisa dipertanggungjawabkan. Dan bisa mengumpul rente tentunya. Rakyat hanya menjadi komoditas untuk di atas namakan. Rakyat menjadi alasan pembenar atas alokasi anggaran yang penuh tipu muslihat. Eksekutif dan legislatif berlomba menciptakan program yang sesuai nomenklatur anggaran. Tak peduli berapa manfaatnya untuk rakyat.