MUSIK Aceh? Bagaimana musik Aceh itu? Bila kita kembali pada sejarah, maka musik Aceh hanya ada 3 saja, yakni Rapa'i, bansi, dan vocal. Musik yang paling menonjol adalah vocal.
Itu kalau kita bicara tradisi. Namun sebenarnya Aceh sangat kaya, karena di dalamnya masih tersedia suku-suku yang mendiami daerahnya yang notabene sangat kaya dengan musik.
Namun bukan itu yang menjadi persoalan sekarang, tetapi masalah kreativitas dalam industri musik Aceh-lah yang patut dipersoalkan, karena Aceh yang katanya punya peradaban dan kaya budaya. Faktanya industri musik Aceh jauh dari harapan, bahkan sangat kacau.
Masalah yang paling mendasar saat ini adalah pemahaman hak cipta yang tampaknya terabaikan. Padahal ini penting, apalagi sekarang persoalan hak cipta menjadi persoalan hidup dan mati, apalagi dalam konteks industri. Hak cipta bisa menjadi bumerang lantaran hak cipta merupakan “warisan” yang tidak bisa ditawar. Sekali menciplak bila dipersoalkan, dapat memiskinkan penciplak, bahkan dipidana hingga 5 tahun lamanya.
Dalam konteks penyanyi yang lagi naik daun, Bergek, pun sama, tidak berbeda. Lagu-lagunya nyaris 80 persen menjiplak lagu India. Kerja (menjiplak) itu seperti ditulis Thaib Loh Angen, sudah dimulai sejak masa Ibnu Arhas dulu. Dan bukan salah Bergek.
Kalau mau jujur, sebenarnya ciplak menciplak ini sudah lahir sejak kesenian seudati berkembang di Aceh. Dalam Seudati yang punya beberapa karakter vocal dalam sudati seperti Saleum, Likok, Saman, Lagu, dan Syahi.
Dan dalam Seudati pada dasarnya tidak bisa dibilang jiplak karena dalam syahi lagu yang biasa didendangkan pada pertunjukan memakai lagu yang populer di masanya, dan dinyanyikan dengan cara yang lucu. Lagu biasanya didendangkan bila penonton sudah mulai mengantuk, dan itu selalu terjadi di tengah malam, tidak ada yang salah?