Oleh Taufik Sentana*
Eyang Sapardi, demikian ia suka disebut, merasakan ketabahan dan kesunyian pada puisi. Menurutnya, dalam masa 25 tahun kepenyairannya yang ia dapat hanyalah kesunyian (dimaksud, kerugian karena hasilnya tak sepadan dengan modal yang ia keluarkan untuk membeli kertas, bea pos, mesin tik dsb). Tapi puisi telah menjadi jalannya, jalan eksprimennnya. Sebagaimana ia meyakini bahwa 'kata kata adalah segalanya dan kesunyian mengundang keindahannya sendiri'.
A.Teuuw menyebut eyang Sapardi sebagai sosok relevan tentang besarnya eksprimen beliau pada puisi. Setidaknya puisi Hujan Bulan Juni telah menjadi contoh kecil, yang berwujud dari puisi ke novel, dan dari novel ke layar lebar. Bahkan realisi ke layar lebar tampak lebih pas dibanding karya novelnya.
Pada kisah lain, di masa kejayaan Rendra, ia pernah meminta sebuah rumah untuk nilai karya puisinya. Ini menandakan keabsahan konkret perihal negoisasi tergantung konteksnya saat itu. Dan sejarah memang tidak menginkari kepakaran Rendra. Ia menjadi penyair besar dengan balada balada dan sajak sosialnya. Sedang eksperimennya pada sunyi yang lantang, maka kita mengenal “Mastadon, simbol kekuasaan yang zalim dengan segala bentuknya, adapun kekasihnya adalah mereka yang terpinggirkan secara sosial-ekonomi dan politik, walau ia sendiri bagai merak yang jinak-jenaka.