DI PAGI yang cerah, Ahad, 26 Desember 2004, sekitar pukul setengah delapan, saya dengan menggunakan sepeda motor (sepmor) mengantar kakak ke Sigli. Rencananya kakak saya ingin mengantar jamaah haji dari kabupaten Pidie ke Banda Aceh. Di hari itu juga saya dan Ibu ingin mengunjungi abang yang sedang 'meudagang' di Dayah yang terletak di kaki bukit, tepatnya di Gampong Bidok, Ulim, Pidie Jaya.
Tiba-tiba, sepmor yang saya kendarai goyang. Saya berpikir goyangan itu disebabkan oleh ban sepmor yang kekurangan angin. Dengan kecepatan sedang, saya terus melaju tanpa memperdulikan sepmor yang bergoyang.
“Hai nyak ka dong,” seorang Bapak yang berada di luar warung kopi berteriak ke arah saya.
“Gempa,” ia menambahkan.
Saat itu saya tersentak dan sadar kalau sepmornya goyang bukan karena angin ban yang sedikit, tapi itu dikarenakan gempa.
Sayapun menghentikan lajuan sepmor tepat di pinggir jalan dekat sungai, tepat di depan ruko dua tingkat yang terbuat dari beton. Al hasil, setelah sepmor berhenti, kakak saya langsung turun. Saat itu, dia tidak bisa lagi berdiri, karena memang guncangan gempa sudah semakin kuat. Menurut keterangan warga di situ, ketika kami berhenti, gempa sudah berlangsung sekitar 10 detik.
“Thum..thum..thum..”
Suara ledakan terdengar.
“Peue jimeuprang teungoh-teungoh geumpa,” saya membatin.
Perlu diketahui, saat itu, Desember 2004, Aceh masih merupakan daerah gejolak perang di mana masyarakatnya diwajibkan menggunakan KTP (kartu tanda penduduk) khusus yang ukurannya lebih besar dari ukuran KTP biasa yang berlaku di provinsi lain di Indonesia. Di bagian belakang KTP khusus itu bertuliskan butir-butir Pancasila yang berisikan 5 sila. Masyarakat Aceh sering menyebutnya KTP 'merah puteh', karena memang warnanya yang merah putih, warna dari bendera Indonesia.
Penggunaan KTP khusus itu merupakan kebijakan Pemerintah Indonesia dikarenakan Aceh berstatus daerah darurat sipil, kelanjutan dari DM (darurat militer) yang diberlakukan Presiden Megawati Soekarno Putri untuk menumpaskan GAM (Gerakan Aceh Merdeka).
Antara sadar dan tiada, saya melihat air Krueng Baro, sungai yang tak jauh saya berdiri, bergoyang hebat. Ruko yang di seberang jalan pun berguncang kuat. Namun Alhamdulillah, ruko tersebut tidak rubuh walaupun dalam pikiran saya bangunan tersebut akan hancur dan rubuh. Setelah gempa mereda, saya pun kembali melanjutkan perjalanan mengantar kakak ke Sigli.
Dari Sigli, tepatnya dari Masjid Al Falah, masjid tempat berlangsungnya pelepasan jamaah haji, tanpa berhenti lagi, saya langsung pulang, di mana Ibu sedang menunggu saya untuk mengunjungi abang saya yang sedang menimba ilmu agama di dayah.
Sesampainya di rumah, tanpa menghabiskan waktu lagi, saya langsung mengambil barang-barang seperti beras, 'thimpan iem' (kue khas Aceh terbuat dari beras dan pisang yang dihaluskan dengan dikukus (seu op -Aceh) dan keperluan abang saya lainnya yang yang telah disiapkan sedari (sejak dari) malam hari.
Dengan Ibu di belakang, saya memacu sepmor (masih) dengan kecepatan sedang menuju ke Ulim, kecamatan tempat di mana abang saya belajar ilmu agama berada.
“Peu bala lom nyoe, ban lheuh gempa, maken hana diteupeu droe di awak TNI nyoe,” ujar saya saat melihat banyaknya anggota TNI dan mobil panser berbaris di simpang Cubo, Keude Paru, Bandar Baru.
Saat itu saya berpikir, pihak TNI sedang melakukan operasi ke Cubo untuk menyerang markas GAM. Cubo itu merupakan salah satu markas pertahanan GAM yang terkenal dan di situlah Tgk Lah (Abdullah Syafiie), Panglima Tertinggi GAM, meninggal tertembak timah panas, tiada berapa lama, hanya sekitar beberapa bulan, setelah utusan Pemerintah RI diterima baik oleh GAM di markas tersebut.
Muhajir, seorang dara dengan raut muka yang letih memanggil saya.
Sambil mengerem sepmor dan berhenti saya pun melihat ke arahnya.
Wahyuni! Apa yang terjadi? tanya saya menyahuti panggilannya.