LHOKSEUMAWE Anggota DPRK Aceh Utara Hasanusi menilai sebagian besar hasil produksi pertanian rakyat selama ini justru menguntungkan pengusaha di luar Aceh. Pasalnya, di Aceh termasuk Aceh Utara tidak ada industri pengolahan pascapanen baik padi maupun ikan, misalnya.
Keuntungan dari hasil produksi pertanian di daerah kita, 30 persen dinikmati orang (petani) Aceh, 70 persen dinikmati orang lain (pengusaha di luar Aceh). Padi kita dijual ke Sumatera Utara dengan harga murah, setelah diolah jadi beras dijual lagi ke daerah kita dengan harga mahal, ujar Hasanusi akrab disapa Geuchik Sanusi kepada portalsatu.com lewat telpon seluler, Senin, 21 Desember 2015, malam.
Geuchik Sanusi menyebut kondisi tersebut terjadi lantaran di Aceh seperti Aceh Utara tidak ada pabrik padi moderen yang dapat mengolah beras berkualitas seperti di Sumatera Utara. Begitu pula hasil produksi ikan. Menurut anggota dewan dari Kecamatan Seunuddon ini, ikan bandeng produksi nelayan tambak Aceh Utara hanya terjual sekitar Rp12 ribu perkilogram.
Sebagian ikan kita dijual ke luar Aceh, setelah diolah atau dikalengkan sedemikian rupa, dijual lagi ke daerah kita dengan harga mencapai 300 ribu sampai 400 ribu, kata Ketua Fraksi Amanat Karya Bangsa (AKB) DPRK Aceh Utara ini.
Itu sebabnya, kata Geuchik Sanusi, pemerintah daerah harus memikirkan peningkatan nilai tambak ekonomi petani Aceh melalui pengolahan pascapanen. Sebab, Aceh memiliki potensi sangat besar di sektor pertanian termasuk perikanan.