Oleh: Nurul Hidayati

 

Mungkin tulisan tangan ini tidak akan didengar
Meski mencoba menghimpun kata
Untuk menunjukkan amarah rakyat kecil yang bersiap menyingsingkan lengan baju
Untuk melawan mereka
Karena tangisan takkan berguna

Pikiranku bertualang, entah memikirkan apa
Tiba-tiba saja otakku terhenti menjelajah
Mengingat bahwa penderitaan belum berakhir
Takkan guna mengemis belas kasihan
Karena seekor tikus, tak akan mendengar tangisan ribuan ‘semut’

Inginnya aku teriak,
Hei, kami ini hidup. 
Bagaimana dengan hukum yang mengatur tentang hak-hak kehidupan?
Masih berlaku kah untuk kami?
Sekejam inikah negara yang dibangga-bangga
Dan harus kuabdi sepanjang masa?
Negara yang dipimpin oleh anak muda yang tak tau sejarah, kata Veteran
Negara yang hukumnya tajam ke bawah tumpul ke atas
Negara di mana rakyat kecil menangis dan tak didengar
Negara di mana para tikus bebas merayap memakan bongkahan uang rakyat
Negara di mana kami hanya makan janji-janji manis

Kami adalah bagian yang tersisihkan
Mencoba tak menyalahkan aparat dan pejabat
Ah, ingin sekali kubenamkan tubuh dan wajah ke dalam tumpukan jerami
Agar kepedihan tak kudengar lagi
Tentang masalah-masalah HAM yang belum tuntas
Pembangunan yang tak jelas
Kami membayar pajak untuk apa, lantas?
Pertanyaan bodoh memang
Dan aku hanya butuh penjelasan, bukan ocehan

Keringat para pahlawan dulu tak pernah berarti
Mengingat mereka pun kalian tak sudi
Para pejuang yang hidup miskin di masa tuanya
Yang harus mengayuh sepeda sekadar mencari nafkah
Sehingga tak mampu menikmati masa tua dengan layak
Dasar kalian kejam
Seolah mereka harus berjuang lagi
Tak bisa sekedar duduk santai sambil menonton TV di rumahnya

Tapi, inilah negaraku
Negara yang kata orang-orang tanah surga
Sayangnya, batu tetaplah batu dan tak pernah jadi tanaman
Kita tinggal di negara yang satu 
Tapi tak pernah sepenuhnya aman
Karena merdeka hanya tinggal kata
Jangan sampai, Indonesia hanya tinggal nama


Penulis adalah Siswa Kelas XI IPA 2, SMA Labschool Banda Aceh