TIDAK ada yang bisa dipertahankan secara murni dan utuh di dunia ini karena sifat dunia itu berubah, dan manusia sebagai khalifah dunia, lebih rentan untuk…
TIDAK ada yang bisa dipertahankan secara murni dan utuh di dunia ini karena sifat dunia itu berubah, dan manusia sebagai khalifah dunia, lebih rentan untuk berubah.
Oleh karena itu, maka tidak ada kebudayaan yang mampu dipertahankan secara murni oleh bangsa manapun, baik itu secara kebendaan mahupun secara nilai.
Pada kenyataannya, orang-orang yang berteriak untuk mempertahankan kebudayaan itu sendiri hidup dengan gaya dan benda yang tidak bernilai dan tidak bersifat kebudayaan yang didengungkannya.
Nilai dan sifat kebudayaan itu hanyalah ide atau khayalan tentang masa silam, seakan-akan ianya adalah fakta masa lalu yang mesti dipertahankan pada masa kini.
Akan tetapi, baik itu khayalan atau fakta tentang masa lalu yang ingin dipertahankan di masa kini, niscaya kebudayaan harus dirawat sesuai buah pikiran (ide) masa kini, supaya sebuah bangsa itu memiki tanda pengenal, bukan bangsa asing di bumi.
Pada akhirnya, kebudayaan itu hanyalah sebuah harapan tentang keberadaan masa silam, dari orang-orang yang menginginkan dirinya dapat hadir di masa lalu, sementara mereka hidup di zaman yang berbeda.[]
Banda Aceh, 15 September 2017.
Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan.