Neurajah atau dikenal dengan istilah mantra (walaupun sebenarnya tidak dapat disamakan antara neurajah dan mantra) tidak dikuasai oleh semua orang Aceh. Hanya pawang atau dukun yang punya kemampuan untuk itu. Pawang atau dukun memiliki latar belakang bahasa yang berbeda dan mereka menguasai mantra sesuai dengan latar belakang bahasanya itu.
Meski demikian, ada pawang atau dukun yang menguasai neurajah yang isinya bahasa berbeda dengan yang dimiliki si pawang atau dukun. Dukun atau pawang yang mampu berbahasa Aceh, misalnya, selain mampu menggunakan neurajah berbahasa Aceh, juga dapat menggunakan neurajah berbahasa Arab atau berbahasa Kluet dan Jamee.
Seperti para pawang atau dukun di daerah Kluet, Aceh Selatan, di daerah ini mereka menggunakan neurajah berbahasa Aceh, Arab, Indonesia, Jamee, dan Kluet. Hal ini pernah ditulis oleh Hendri Azhar dalam penelitiannya, Jenis dan Fungsi Neurajah dalam Masyarakat Kluet.
Berdasarkan penelitiannya, bahasa-bahasa yang saya sebutkan di atas digunakan secara bervariasi dalam neurajah. Ada neurajah yang seluruhnya menggunakan satu bahasa, ada juga yang di dalamnya terdapat beberapa bahasa.
Neurajah Sakit Bisa berikut ini, misalnya, menggunakan bahasa Arab secara keseluruhan.
Bismillahhi syafi
Bismillahhi khafi
Bismillahhi maafi
Bismillahhi hilmi
Bismillahhi ala mafissamawati wal ardhi
Adapun neurajah Penunuléh berikut ini menggunakan dua bahasa, yaitu Arab dan Aceh.
Neupeupuléh ya Allah
Neupeupuléh ya Rasullullah
Beureukat doa si raja puléh
Puléh roh puléh kalam
Puléh di lua puléh di dalam
Puléh aras puléh kursi
Muhammad pulang Allah nyang puléh
Beureukat doa si pulang puléh
Neupeupuléh ya Allah
Neupeupuléh ya Rasulullah
Beureukat laila haillallah