BANDA ACEH – Dosen Prodi Teater Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Rasyidin menilai pertunjukan Monolog Tjut Nyak Dhien yang dimainkan oleh artis Ine Febrianti secara keseluruhan sangat bagus. Hanya saja, minimnya pencahayaan mempengaruhi keseluruhannya.
“Pencahayaan sangat mempengaruhi pertunjukan secara keseluruhan,” kata Rasyidin alias Wig, selepas pertunjukan Monolog Tjut Nyak Dhien di Gedung Dayan Dawood, Rabu, 9 Desember 2015, malam.
Wig datang ke pertunjukan Monolog Ine Febrianti bersama beberapa rekan dosen seni dan mahasiswa ISBI dari Jantho, Aceh Besar. Wig menilai, dalam monolog Ine ada kesan penonton hanya disuguhkan suara saja karena lampu yang samar dengan panggung terlalu besar.
“Alasan Mbak Ine untuk mengambil nuansa zaman dulu, itu sudah tepat. Hanya arena pencahayaan, penonton yang berada di belakang melihat samar-samar. Harusnya lampu lebih terang,” ujar Wig.
Namun, Wig dapat memaklumi apabila keberadaan tempat masih kurang dapat memfasilitasi pertunjukan Monolog Tjut Nyak Dhien oleh Ine Febrianti.[] (*sar)
GAYA
Kata Dosen ISBI Aceh Soal Monolog Tjut Nyak Dhien
BANDA ACEH - Dosen Prodi Teater Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Rasyidin menilai pertunjukan Monolog Tjut Nyak Dhien yang dimainkan oleh artis Ine Febrianti secara…
Baca Juga
gaya
Mustafa Ismail Harapkan Naskah Buku Standardisasi Ejaan Bahasa Aceh Segera Kelar
3 November 2016
Bahasa
Menanggapi KPA, Benarkah Bahasa Daerah Terancam?
6 September 2016
gaya
Ormas Al Kahar Sesalkan Kongres Lupakan Bahasa Jawi
12 Desember 2015Artikel Terkait
Lihat Semua →[ Foto ]
GAYA
Mustafa Ismail Harapkan Naskah Buku Standardisasi Ejaan Bahasa Aceh Segera Kelar
[ Foto ]
BAHASA
Menanggapi KPA, Benarkah Bahasa Daerah Terancam?
[ Foto ]
GAYA
Ormas Al Kahar Sesalkan Kongres Lupakan Bahasa Jawi
[ Foto ]
GAYA