Selain rasa benci kepada jin jahat, pencipta neurajah juga merasa adanya Tuhan sang Pencipta alam semesta.
Mari kita lihat unsur-unsur pembentuk neurajah. Sebagai salah satu jenis puisi lama, faktor lahirnya neurajah pada dasarnya sama dengan faktor lahirnya puisi, yaitu intuisi, imajinasi, dan sintesis.
Selain tiga faktor itu, terciptanya neurajah tidak terlepas dari unsur-unsur pembentuknya. Dalam sastra disebut unsur batin dan unsur fisik. Unsur batin meliputi tema, perasaan, nada dan suasana, amanat dan tujuan.
Tema neurajah macam-macam, seperti (a) melindungi diri (dari serangan musuh, makhluk halus/setan, alam dan binatang buas, kekuatan dan ketahanan tubuh), (b) menyembuhkan penyakit (disebabkan oleh makhluk halus/hantu atau burong makhluk halus sejenis kuntil anak, penawar racun, sakit perut dan masuk angin, sakit gigi, sakit kulit).
Bukan hanya itu, tema neurajah juga dapat berupa memperoleh rasa atau disayangi/dicintai orang lain, memperoleh kekebalan tubuh dari benda tajam, menundukkan binatang dan alam, memperoleh ketenteraman/ketenangan jiwa atau batin, memperoleh hasil/untuk dalam bidang pertanian, seperti tidak dimakan hama, terutama padi.
Lain halnya dengan perasaan. Unsur ini berkaitan dengan emosional penciptanya. Meski merupakan karya sastra lisan yang turun-temurun dan anonim, unsur perasaan dalam neurajah dapat diketahui dengan mudah. Caranya adalah melalui tema-tema neurajah yang dihadirkan/dibacakan oleh penerus neurajah.
Dalam tema menyembuhkan penyakit, misalnya, yakni neurajah beusè (jin pengganggu). Dalam neurajah itu diketahui bahwa pencipta merasa benci kepada jin pengganggu anak Adam. Karena tidak merasa senang, neurajah pun berisi cacian dan umpatan. Ini dapat dilihat pada penggalan neurajah tersebut seperti berikut ini.
……
Lam tubôh droe Mid matahari teungoh beukah, menuan dôkdak lam tubôh droe dikah hai beusè droe. Kurancang kurancéng patah ranténg gunong beutapa…..
Neubri bak pula pingkui, uli bak jeut keu punggông, punggông bak jeut keu utak….
Selain rasa benci kepada jin jahat, pencipta neurajah juga merasa adanya Tuhan sang Pencipta alam semesta. Mereka yakin dan percaya bahwa semua permohonan untuk keselamatan, ketenangan, dan kesehatan datang dari Tuhan, dan Tuhanlah yang mampu menolongnya. Ini dapat dilihat pada contoh neurajah peunuléh berikut.
…..neubri bak puléh hai ya Allah// neubri bak puléh ya Rasulullah// neubri bak puléh ya Muhammad// neubri bak puléh umat Muhammad hamba hai ya Tuhanku.
Selanjutnya, nada neurajah merupakan sikap penyair terhadap masalah yang dikemukakan, sedangkan suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca neurajah atau akibat psikologis yang ditimbulkan oleh neurajah terhadap pembaca.
Nada memiliki hubungan erat dengan tema dan perasaan yang terkandung dalam neurajah. Untuk menyembuhkan penyakit dengan menggunakan neurajah, pawang/dukun merasa kehadiran pencipta yang merupakan tempat meminta.
Dalam situasi tersebut akan muncul nada religius. Nada ini menimbulkan suasana khusyuk. Dalam suasana khusyuk ini, pawang/dukun mengucapkan mantra-mantra yang berisi permohonan kepada Tuhan dan bujukan kepada makhluk halus dan binatang buas agar mengganggu manusia.
Selain itu, pawang/dukun juga memohon berkat kepada nabi, malaikat, dan guru. Dalam situasi ini timbul suasana tenang dan tenteram sehingga pawang/dukun akan memperoleh konsentrasi penuh untuk menjiwai setiap kata dan kalimat, serta bait-bait yang diucapkan dalam suatu neurajah.
Mengenai nada dan suasana, secara singkat dapat dikatakan bahwa neurajah dengan nada religius menimbulkan suasana khusyuk, nada kritis menimbulkan suasana sinis terhadap jin pengganggu, nada tenang menimbulkan suasana haru dan riang. Contohnya dapat dilihat dalam Neurajah Peutuwah Aneuk Manyak.
Hong hutadi hutani hai aneuk jén beusè bak meuutang ilang dikah beusè/bak jeut keu kareung neubri bak jeut keu beuténg. Neubrie bak jeut keu kayèe soe nyang deungki kianat neubrie bak meujrat, neubrie bak meukeumat neubrie bak meurèn-rèn ya Tuhanku.
Neurajah juga mengandung amanat dan tujuan. Amanat berarti maksud yang hendak disampaikan pencipta neurajah. Amanat tentu saja tidak terlepas dari tema, nada, dan perasaan.
Setiap tema yang diangkat harus didasari pada tujuan yang akan dicapai. Dalam neurajah yang bertema memperoleh hasil/untung tentu timbul pertanyaan keuntungan, hasil apa yang akan diperoleh? Agar dapat terjawab, kita yang sebagai pendengar, pembaca neurajah harus memahami isi dan manfaat neurajah. Bersambung…[]