BANDA ACEH – Eceng gondok adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah. Tingginya sekitar 0,4 – 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau.
Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya. Namun, siapa sangka tumbuhan liar ini dapat dijadikan berbagai bentuk kerajinan tangan setelah diolah.
Dalam Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni dan Riset (Pionir) VIII di Kampus UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, ada satu stan yang memamerkan hasil karya anyaman dari eceng gondok. Tumbuhan yang kerap dianggap parasit ini diolah sedemikian rupa sehingga menjadi aneka ragam kerajinan tangan. Di antaranya, tas, kotak tisu, gantungan kunci, tempat bolpoin, sandal dan lain sebagainya.
Ternyata produk yang sangat kreatif itu adalah hasil karya warga Aceh Barat, Kecamatan Arongan Lambalek. Ada tiga desa yang menghasilkan karya ini yaitu Desa Cot Jurumudi, Desa Kubu dan Desa Peulanteu. Uniknya lagi, tiga desa ini hasil binaan UIN Ar-Raniry dalam sebuah program binaan desa.
“Saat itu kami melaksanakan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di sana. Kami mengajarkan warga di sana bagaimana caranya mengolah eceng gondok. Alhamdulillah, hari ini hasil karya mereka bisa dipamerkan di sini,” ucap Karmila, mahasiswa UIN Ar-Raniry kepada portalsatu.com sembari menunjukan beragam karya tangan itu, Jumat, 28 April 2017.