Karena sifatnya sakral, neurajah tidak boleh diucapkan oleh sembarang orang. Hanya pawang/dukunlah yang berhak dan dianggap pantas mengucapkan neurajah. Pengucapannya pun harus disertai dengan upacara ritual, misalnya asap dupa, duduk bersila, gerak tangan, dan ekspresi wajah.
Ada neurajah yang harus diucapkan secara keras dan ada juga yang harus diucapkan dengan suara pelan. Hanya pawang atau dukunlah yang mengetahui bagaimana mendatangkan kekuatan gaib melalu neurajah. Ini berarti neurajah mempunyai kekuatan, bukan hanya dari struktur kata-katanya, tetapi juga dari struktur batinnya.
Neurajah tak asal diwariskan. Hanya orang-orang spesial yang dipandang berhak mewarisi, memiliki, dan menggunakannya. Pawang atau dukun sebagai penerus yang mampu menggunakan neurajah untuk hal-hal baik dikategorikan sebagai orang tua. Orang tua inilah yang berhak ditugasi untuk melakukan kegiatan tertentu, seperti acara permulaan memetik padi, peusijuk, dan lain-lain sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masing-masing dalam hubungan dengan Sang Pencipta.
Neurajah tidak hanya digunakan untuk hal-hal baik, tetapi juga untuk hal-hal yang dianggap kurang baik, seperti neurajah pemikat, peurabôn (hilang, tidak tampak di mata orang), pemanis, dan pengasihan. Pemanfaatan untuk hal-hal yang tidak baik ini sudah jarang ditemui karena keyakinan masyarakat tentang agama sudah semakin kuat dan pola pikir sudah lebih maju. Bagaimana isi neurajah? Berikut contohnya! Neurajah ini disebut Peutawa Barah.
Bismillahirrahmanirrahim
Tuan taali timoh barah
Rasulullah neukheun hana lé
Tren phéreuman nibak Allah
Cut ngon barah pih hana lé
Barah kubantôt
Cut kubantôt