TERKINI
EKBIS

Cerita Mahasiswi Aceh di Kroasia; “Kok Muslim di Sini Tidak seperti Kalian?”

Di jalan pulang ia bertemu dengan seorang nenek yang membawa jalan-jalan anjingnya.

ISKANDAR NORMAN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 2.9K×

MANNA Wassalwa yang akrab disapa Wawa merupakan mahasiswi FKIP Biologi Unsyiah yang sedang mengikuti pertukaran mahasiswa di Kroasia. Selama tiga bula berada di negara tersebut, banyak hal menarik dan di luar dugaan yang dialami Wawa. Misalnya tentang kebiasaan para orang tua di Kroasia, walaupun sudah sepuh dan sudah bungkuk tapi masih rajin keluar rumah dan berjalan.

“Bahkan belanja ke pasar atau jualan di pasar di sini bukan suatu hal yang asing. Memang nyak-nyak kalau di Aceh juga banyak di pasar. Bisa dikatakan jumlah lanjut usia (lansia) maupun muda hampir sama di jalanan,” kata Wawa kepada portalsatu.com melalui BBM beberapa hari lalu.

Di sana, kata Wawa, juga terdapat tradisi yang patut dicontoh. Di transportasi umum seperti tram misalnya sudah lumrah jika kursi yang tersedia diutamakan untuk para lansia.

“Bahkan kalau yang muda duluan duduk terus ada lansia yang masuk tanpa diingatkan langsung berdiri dan mempersilahkan para lansia untuk duduk. Meskipun terkadang ada juga lansia yang tidak mau duduk merasa masih kuat berdiri,” kata mahasiswa yang sedang mengikuti program Expert4asia itu.

Cerita lainnya, seperti pada Sabtu malam lalu, saat ia dan temannya baru saja pulang latihan tari Saman di Embassy Indonesia. Di jalan pulang ia bertemu dengan seorang nenek yang membawa jalan-jalan anjingnya.

“Karena dia liatin kami jadi nya Wawa sapa “Dobra Vecer (Selamat malam)” terus di balas sama nenek itu. Kami melanjutkan jalan kira-kira sudah tiga langkah dia ngomong lagi nanya kami dari mana dan sebagainya,” ujar Wawa.

Mereka lantas terlibat dalam percakapan yang hangat dan lama. Nenek tersebut merasa senang melihat sikap Wawa dan temannya yang menurutnya terlihat baik dan ramah.

“Sampai dia tanyain kami muslim ya? Kok baik? Muslim di Indonesia baik-baik ya? Di sana ada perang? Kok muslim di sini tidak seperti kalian,” ujar Wawa mengutip kata nenek tersebut.

Namun sayangnya karena nenek tersebut tidak bisa berbahasa Inggris, Wawa dan teman-teman tidak tahu cara menjawab dengan bahasa Kroasia kalau sebenarnya muslim tidak mengajarkan kekerasan.

“Jadinya kami baru hanya mampu memberi kenyataan bahwa muslim Indonesia baik. Insya Allah semoga ke depan bisa membawa nama muslim yang lebih universal, Amin,” ujar Wawa.

Wawa dan teman-teman rencana akan kembali ke Aceh pada akhir Februari dan tiba di Aceh awal Maret 2016.[]

ISKANDAR NORMAN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar