TAKENGON – Memperingati hari AIDS sedunia yang jatuh setiap 1 Desember, jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tengah melakukan sosialisasi bahaya HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus-Acquired Immune Deficiency Syndrome) di kalangan ibu rumah tangga dan remaja.
“Selain ke sekolah-sekolah, kita juga masuk ke rumah-rumah warga untuk menyampaikan bahaya penyakit mematikan itu,” kata Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan Aceh Tengah, Nurhayati Simanjorang, kepada portalsatu.com, Selasa, 1 Desember 2015.
Hingga Desember 2015 kata Nurhayati, penderita HIV/AIDS di Aceh Tengah mencapai 15 kasus. Dari 15 penderita tersebut 10 di antaranya sudah meninggal dunia. Sementara lima dari yang tersisa itu satu di antaranya merupakan anak laki-laki berusia empat tahun, sedangkan yang lainnya berjenis kelamin perempuan. Bocah tersebut tertular melalui kedua orang tuanya.
Lebih lanjut Nurhayati mengatakan, ayah kandung bocah itu kini telah meninggal dunia sedangkan ibunya sudah menikah kembali dan diperkirakan ayah tirinya juga telah tertular virus tersebut melalui hubungan seksual.
Pada kasus yang lain katanya, seorang istri dan dua anaknya diduga tertular virus HIV/AIDS dari suaminya.
“Kedua keluarga itu sudah kita beri pemahaman tentang bahaya HIV-AIDS, cuma sekarang kedua keluarga itu belum bersedia kita periksa. Tapi kita sudah punya komitmen, dua keluarga itu nanti akan menghubungi kita jika sudah bersedia diperiksa,” kata Nurhayati.
Untuk upaya pencegahan katanya, Dinkes Aceh Tengah juga bekerja dengan Komisi Perlindungan Anak dan terus melakukan sosialisasi tentang bahaya HIV/AIDS. Bagi lima penderita yang terdeteksi tersebut, pihaknya terus mendampingi dan memberikan obat penghambat penyebaran virus.
“Jenis anti retroviral yang kita kasih. Itu gratis, ditanggung negara. Kalau kita hitung-hitung perbulan menghabiskan sekitar Rp.8 juta-an itu untuk obat saja. Maka kita harap masyarakat yang mengalami gejala HIV-AIDS, segera melapor untuk kita tangani. Kita juga jaga kerahasiaan penderita,” katanya.[]