Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan sekaligus bahasa nasional. Namun ternyata, tak mudah berbahasa Indonesia.
Mengapa? Banyak orang mengeluhkan bahwa bahasa Indonesia susah dipelajari dan membingungkan. Bahkan sebagian lagi mencapnya “aneh”.
Misalnya, mengapa istilah tackle dalam pertandingan sepak bola tidak bisa disamakan dengan menekel dalam bahasa Indonesia yang justru berarti 'menangani (menggarap, mengerjakan).
Ada enam hal kesalahan berbahasa yang tanpa sadar justru sering dilakukan oleh para pengguna bahasa Indonesia.
1. Ubah dan bukan rubah
Banyak yang menyangka bahwa rubah adalah semacam kata dasar dalam bahasa Indonesia yang berarti 'tukar' atau 'ganti'. Karena itu, bentuk kata berimbuhan merubah dianggap benar.
Namun, faktanya tidak demikian. Pemakaian yang benar adalah mengubah. Adapun rubah yang berarti 'hewan sejenis anjing, bermoncong panjang, makanannya daging, dsb'–seperti diungkapkan Seno Gumira Ajidarma–tidak dikenal masyarakat Indonesia karena rubah bukanlah hewan asli Indonesia.
2. Di mana atau dimana
Banyak pula yang tidak bisa membedakan kapan “di” harus disambung dan harus dipisah. Misalnya, menuliskan di kantor atau dikantor.
Padahal ada cara mudah untuk membedakannya, yakni mengetahui kelas kata “di” yang dipakai, apakah dia sebagai kata depan ataukah kata sambung. Misalnya “di” sebagai kata depan yang menunjukkan tempat, maka penggunaannya dipisah. Sementara jika “di” sebagai kata sambung atau imbuhan, seperti pada kata “dimakan”, penggunaannya harus dilekatkan pada kata dasarnya.
Selain itu, cara lainnya adalah dengan menempelkan awalan “me-” pada kata dasar. Prinsipnya, setiap kata yang bisa menempel pada awalan “-me”, maka tentu bisa menempel pula pada awalan “di-“. Misalnya ada kata memuja, maka ada kata dipuja yang harus ditulis serangkai pula.
3. Olahraga atau olah raga
Bentuk kesalahan lainnya yang beredar di masyarakat adalah penulisan olahraga sebab banyak yang menulisnya sebagai olah raga. Padahal antara kata olah dan raga seharusnya tidak ada spasi.