Saat ini profesi ?guru sangat minim kritik. Sehingga timbul anggapan bahwa apapun yang dibuat guru adalah benar.
KEMARIN diperingati sebagai hari guru. Di lini masa dan ruang publik penuh pujian. Hampir tiada kritik dan hal-hal yang buruk tentang profesi itu. Benarkah guru orang paling layak disanjung melihat kondisi mutu pendidikan kita? Jika melihat kondisi bangsa kita hari ini, benarkah guru tidak punya cela?
Kita perlu belajar melihat realitas. Belajar otokritik. Mari kita bandingkan dengan negara serumpun kita Malaysia. Di awal mereka membangun pendidikan, mereka bahkan banyak merekrut guru asal Indonesia. Di bawah tahun 90-an, banyak sekali mahasiswa mereka balajar di sini. Bahkan hingga di Banda Aceh.
Kenyataannya hari ini? Bandingkan kemajuan bangsa mereka dengan kita. Bandingkan kemajuan pendidikan mereka dibanding kita.
Paradigma pemujaan profesi guru oleh banyak kalangan menyebabkan guru berada di menara gading. Saat ini profesi ?guru sangat minim kritik. Sehingga timbul anggapan bahwa apapun yang dibuat guru adalah benar.
Pada kenyataannya pendidikan kita masih bermutu rendah. Lulusan kita sulit bersaing. Konon lagi Aceh. Anggaran pendidikan berlimpah. Mutu kita tidak juga beranjak naik. Kemudian kritikan banyak tertuju ke birokrat pendidikan, mereka dianggap tidak becus mengurus pendidikan.
Namun kenapa guru luput dari kritikan?
Saat ini profesi guru sangat dihargai negara. Mereka diberi tunjangan profesi. Jumlahnya sama dengan gaji pokok. Namun mereka hanya diwajibkan mengajar empat jam dalam satu hari. Bandingkan dengan profesi lain, terutama mereka yang juga PNS. Dengan jam kerja yang lebih panjang. Misalnya polisi atau pegawai kantor pemerintah.
Para pengambil kebijakan di negeri ini salah dalam mengurus pendidikan. Pasalnya guru yang tidak mengajar dengan benar, amat memberi andil rendahnya mutu pendidikan kita. Bayangkan hasil pembelajaran anak-anak kita yang tidak sesuai standar kompetensi lulusan. Ini adalah andil guru.
Makanya pada peringatan hari guru. Mereka perlu melakukan introspeksi diri. Semua pihak harus sadar, buruknya pendidikan kita tidak lepas peran semua pihak. Tentunya dalam hal ini guru juga punya andil. Maka kritikan atas buruknya layanan pendidikan juga harus ditujukan pada profesi mulia ini.
Kita tidak menghujat, namun mengingatkan. Untuk menjadi guru adalah pilihan. Tidak ada paksaan. Sehingga setelah memilih, kita wajib mencintai profesi itu. Bila mencintai kita akan menumpahkan segala daya upaya untuk terus merawat profesi itu.
Maka pada hari guru ini. Kita ajak guru merenungi. Introspeksi dan bercermin. Agar kegagalan bangsa ini tidak terus terpelihara. Pendidikan adalah jalan paling mutlak untuk kemajuan sebuah bangsa. Guru adalah komponen utama dalam suksesnya pendidikan.
Guru bukan hanya sekedar pengajar, tutor, mentor atau narasumber belajar. Guru adalah manusia sempurna tempat generasi mendapat segala hal yang baik-baik, segala nilai-nilai luhur, dan segala jalan mencapai kedewasaan mereka.
Guru adalah darat bagi manusia untuk merebut zamannya. Guru adalah pencerah bagi jalan masa depan generasi. Gagalnya anak-anak kita dengan masa depannya, maka gagal lah kita semua. Ingatlah wahai guru! []