MERDEKA – Pemerintah terus menekankan pentingnya keselamatan dalam semua sarana transportasi. Penerbangan menjadi prioritasnya. Namun, ada saja maskapai bandel ikuti aturan pemerintah. Salah satunya Lion Air.
Maskapai penerbangan milik anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) Rusdi Kirana ini, tiap tahun selalu ada saja masalah menerpanya. Paling sering terjadi, yakni keterlambatan penerbangan atau delay.
Lion Air bahkan dicap 'doyan delay' di mata publik. Meski begitu, tetap saja banyak konsumen memakai jasa maskapai ini. Tentu ini didasari dengan harga tiket ditawarkan termasuk low cost carrier.
Banyaknya kasus melanda Lion Air ternyata tidak membuat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) keras. Pemerintah justru terkesan lembek kepada maskapai penerbangan ini.
Pengamat penerbangan Marsekal (Purn) Chappy Hakim bahkan melihat banyaknya kasus delay Lion Air harusnya membuat pemerintah bertindak lebih tegas. Dia mendesak Kemenhub segera bekukan izin penerbangan maskapai itu.
“Lion Air membahayakan! sudah waktunya untuk dibekukan ijinnya dan dilakukan audit secara menyeluruh agar tidak membahayakan nyawa orang banyak,” tulis Chappy Hakim melalui akun Twitter-nya, seperti dikutip merdeka.com, Minggu (22/11) lalu.
Di samping delay, para awak kabin maskapai ini kerap melakukan tindakan kurang pedulikan keselamatan. Berikut pelbagai alasan maskapai Lion Air seharusnya dibekukan, Selasa (24/11):
1. Tawarkan Pramugari Janda
Maskapai Lion Air menawarkan pramugari berstatus janda kepada para penumpang di dalam pesawat. Terdengar juga suara desahan selama penerbangan pesawat bernomor JT 990 rute Surabaya Denpasar itu.
Laporan itu disampaikan Lambertus Maengkom melalui pengaduan di bandara.web.id, pukul 10.46 WIB pada 15 November 2015. Kejadian itu diakui terjadi sehari sebelum dirinya membuat laporan ke Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan itu.
Dalam laporannya, Lambertus menceritakan, pilot Lion Air itu menawarkan pramugari janda kepada penumpang sebagai kompensasi delay. Sontak, tawaran itu membuat para terkejut. Sebab, tawaran itu disampaikannya melalui pengeras suara (speaker) pesawat.
Lion Air akhirnya melakukan investigasi internal terkait kasus pilot tawarkan pramugari janda pada penumpang karena pesawat mengalami delay. Bahkan co pilot dalam penerbangan itu kini dinonaktifkan sementara.
“Untuk Co-Pilot (penerbang) yang bertugas pada saat itu telah kami grounded sampai dengan waktu yang tidak ditentukan untuk mempermudah pengumpulan informasi,” ujar Public Relations Manager Andy M Saladin dalam rilisnya, Rabu (18/11).
Menurut Andy, apabila di kemudian hari terbukti bahwa Co-Pilot tersebut melakukan pelanggaran di luar prosedur atau di luar kepantasan maka akan berikan sanksi.
2. Delay Berujung Ricuh
Pesawat Lion Air 898 rute Jakarta-Makassar di Bandara Soekarno-Hatta beberapa hari lalu mengalami delay berjam-jam. Hal itu mengakibatkan para penumpang emosi dan mencegat pesawat Lion lain dengan rute yang sama yang hendak lepas landas.
“Betul, ada delay yang lama. Cukup panjang dari seharusnya take off pukul 05.00 WIB, tetapi baru pukul 11.00 WIB. Itu yang menyebabkan penumpang emosi,” kata Staf Khusus Menteri Perhubungan, Hadi M Djuardi ketika dihubungi, Minggu (22/11).
Hasil penyelidikan awal, delay itu disebabkan pihak Lion Air meminta ganti pesawat dari 737-190 kepada airbus A330-350. “Tetapi pengajuan baru dilakukan pukul 08.00 WIB, sedangkan jadwal penerbangan seharusnya jam 5 berangkat,” katanya.