Seorang mantan tentara ditahan sejumlah detektif yang menginvestigasi peristiwa Bloody Sunday (Minggu Berdarah) di Londonderry, Irlandia Utara. Tiga belas orang tewas ketika pasukan Inggris melepaskan…
Seorang mantan tentara ditahan sejumlah detektif yang menginvestigasi peristiwa Bloody Sunday (Minggu Berdarah) di Londonderry, Irlandia Utara.
Tiga belas orang tewas ketika pasukan Inggris melepaskan tembakan saat demontrasi menyuarakan hak-hak sipil di Londonderry, Januari 1972 silam. Korban keempat belas, meninggal dunia empat bulan kemudian.
Mantan tentara berinisial 'J' dan berusia 66 tahun itu adalah orang pertama yang ditahan terkait kasus Minggu Berdarah. Dia diduga 'terlibat penembakan terhadap William Nash, Michael McDaid dan John Young.
Kate Nash, saudari dari William Nash, mengaku senang mendengar kabar penahanan itu.
Tadi pagi saya ditelpon polisi. Dia bilang, keluarga harus menjadi yang pertama tahu, sebelum beritanya menyebar, ungkap Kate Nash.
Saya gemetar. Tidak percaya. Saya sangat emosional, seperti secercah harapan muncul tiba-tiba, tambahnya.
Pimpinan investigator kasus ini, Ian Harrison menegaskan, penahanan menandai fase baru investigasi terhadap kasus Minggu Berdarah.
Tanpa peringatan
Seorang juru bicara kementerian pertahanan mengungkapkan, Kami tahu seorang mantan tentara ditahan Kepolisian Irlandia Utara terkait kasus Minggu Berdarah. Tetapi kami belum bisa berkomentar, karena investigasi berlangsung secara independen di kepolisian, ungkapnya.
Salah satu mantan menteri Irlandia Utara, Lord Mandelson, kepada Channel 4 mengungkapkan, berbahaya jika kita melihat terlalu jauh ke belakang.
Bahaya, terkait bukti yang ada, terkait memori manusia dan kemampuan manusia untuk membuat bukti dan fakta mereka sendiri, tentang apa yang pernah terjadi, ungkapnya.
Minggu Berdarah adalah salah satu masa kelam pada sejarah Irlandia Utara.
Perdana Menteri Inggris, David Cameron, 2010 lalu, telah meminta maaf atas nama negara, kepada keluarga korban. Ini menyusul hasil penyelidikan publik yang membuktikan bahwa militer bersalah atas tewasnya warga sipil.
Penyelidikan yang dipimpin Lord Saville dan berlangsung selama 12 tahun itu menyimpulkan bahwa tentara lah yang pertama kali melepas tembakan kepada demonstran, tanpa peringatan.
David Cameron pun mengklaim penembakan tersebut tidak dapat dibenarkan.[] Sumber: bbcindonesia.com