TERKINI
GAYA

Bagaimana Bahasa Buatan Itu?

Bahasa buatan pada umumnya diupayakan lebih mudah daripada bahasa alamiah.

M FAJARLI IQBAL Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 4K×

Solresol, VolapÜk, Esperanto, Interlingua, dan Novial, sebagaimana yang telah saya jelaskan pada tulisan sebelumnya, merupakan bahasa buatan. Bahasa jenis ini berbeda dengan bahasa alamiah yang memang telah ada sejak dulu dan tanpa melalui proses penciptaan seperti bahasa buatan itu. Lantas, apa yang membedakan bahasa buatan dan bahasa alamiah?

Bahasa buatan pada umumnya diupayakan lebih mudah daripada bahasa alamiah. Hal itu didasarkan pada kenyataan bahwa yang paling sulit dilakukan oleh para perancang ialah menginginkan sejumlah orang mempelajari bahasa buatan itu sebab cenderung hanya dapat dipelajari melalui belajar individual atau belajar kelompok (kecuali anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang menggunakan bahasa buatan, seperti anak-anak yang menguasai Esperanto bahasa pertama).

Tampaknya kenyataan itu disikapi secara realistis oleh perancang bahasa buatan. Maka, ciri yang sering digunakan untuk meyakinkan orang lain ialah bahwa bahasa buatan itu sangat mudah dipelajari dan tidak membutuhkan waktu lama. Keistimewaan bahasa buatan ialah membuang keteraturan sintaksis, morfologi, dan fonologi yang sering dijumpai dalam bahasa-bahasa alamiah.

Ciri lainnya yang diupayakan dalam bahasa buatan ialah kesesuaiannya dengan bahasa alamiah. Hal itu dilakukan dengan cara memadukan ciri-ciri sintaksis (ilmu bahasa yang mengkaji tentang kalimat) dan morfologi (ilmu bahasa yang mengkaji tentang kata dan pembentukannya) yang dapat ditemukan dalam bahasa-bahasa alamiah. Sayangnya, bahasa-bahasa alamiah memuat keteraturan sehingga menjadikan kendala bahasa buatan itu untuk dapat sepenuhnya menjadi alamiah dan logis. Padahal kealamiahan dan kelogisan itu merupakan karakteristik yang memudahkan orang mempelajarinya. Sebagian bahasa buatan lebih menekankan keteraturan, tetapi kurang alamiah, dan sebagian yang lain menekankan kealamiahan, tetapi kurang teratur.

Ciri kesesuaian dengan bahasa alamiah itu sekaligus merupakan kelemahan bahasa buatan sebab bahasa buatan hanya tampak dikenal oleh mereka yang sudah mengetahui bahasa alamiah yang dijadikan dasar pembuatan bahasa buatan. Para calon pembelajar lain seringkali merasa bahwa bahasa buatan itu tidak menyerupai bahasa alamiah yang mereka kenal selama ini. Namun, para penciptanya selalu meyakinkan bahwa bahasa buatan mereka dapat dipelajari dengan mudah. Sebagai contoh, John Wilkins dengan Real Character ciptaannya menjamin bahwa pembelajar dapat mempelajari bahasa itu dalam waktu satu bulan dibandingkan dengan belajar bahasa Latin yang memerlukan waktu empat puluh bulan.

Ciri lain lagi yang diupayakan ada dalam bahasa buatan ialah kejelasannya. Bahasa buatan biasanya diciptakan agar dapat berfungsi sebagai media yang tepat dan logis untuk menyampaikan pendapat dan perasaan. Namun, struktur taksonomi yang digunakan untuk mencapai tujuan itu seringkali terlalu kaku. Klasifikasi konsepnya memang mampu menetapkan kata dengan makna. Akan tetapi, klasifikasi itu hanya dapat mencerminkan gambaran realitas para penciptanya saja, padahal imajinasi yang universal dan tidak berubah itu tidak ada. Di samping itu, klasifikasi itu tidak membuka peluang perkembangan baru dalam ilmu pengetahuan.

Sebuah bahasa buatan haruslah mampu menyampaikan berbagai konsep yang digunakan oleh pria dan wanita dalam komunikasi internasional. Dalam kasus-kasus tertentu bahasa buatan hanya digunakan untuk keperluan khusus, misalnya Interlingua untuk kepentingan komunikasi ilmiah saja. Namun, pada umumnya bahasa buatan dirancang untuk mengatasi kebutuhan kelompok masyarakat yang berasal dari bidang tertentu dan masyarakat awam untuk keperluan sehari-hari. Agar dapat berhasil dalam menangani tugas itu bahasa buatan harus mampu mengubah dan mengembangkan tuntutan masyarakat sebagaimana yang diperankan oleh bahasa-bahasa alamiah. Para pendukung Esperanto, misalnya, menekankan bahwa kata-kata baru pun dapat diserap dalam Esperanto, dan hal itu menunjukkan bahwa Esperanto memang bahasa yang hidup, kelenturan itulah yang biasanya tidak dimiliki oleh bahasa-bahasa buatan umumnya.

Edward Sapir, Leonard Bloomfield, dan Franz Boas, yang merupakan ahli bahasa, mengusulkan delapan kriteria bahasa buatan sebagai berikut:

  1. Bahasa buatan sebaiknya tidak mengandung bunyi-bunyi yang menimbulkan kesulitan bagi kebanyakan penuturnya.
  2. Bahasa buatan sebaiknya memiliki struktur gramatika yang efektif.
  3. Bahasa buatan sebaiknya dapat dengan mudah dipadani dengan bahasa-bahasa utama yang dewasa ini digunakan .
  4. Bahasa buatan haruslah memiliki kelenturan struktur.
  5. Bahasa buatan haruslah dikembangkan dari materi bahasa yang telah dikenal oleh para penuturnya.
  6. Bahasa buatan haruslah merupakan perkembangan logis kebiasaan linguistik internasional yang telah terbentuk di masa lalu.
  7. Bahasa buatan haruslah mudah ditulis dalam steno (lambang huruf yang dipendekkan dan disepakati pemakaiannya, terutama di bidang kesekretariatan dengan maksud agar dapat menulis cepat untuk kemudian ditransliterasikan secara lengkap dalam bentuk surat, dsb.)
  8. Sistem fonetik bahasa buatan haruslah dapat menghindari ketaksaan pada saat digunakan dalam telefon, rekaman, atau radio.[]

Sumber: Kristal-Kristal Ilmu Bahasa, 1995, Bambang Yudi Cahyono

M FAJARLI IQBAL
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar