TERKINI
TEKNO

Singkil yang Tersingkir

Singkil yang tersingkir. Pernyataan ini mungkin sangat tidak menyenangkan bagi pembaca, akan tetapi bagi saya apapun penilaian orang terhadap pendapat saya, maka itu saya anggap…

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 856×

Singkil yang tersingkir. Pernyataan ini mungkin sangat tidak menyenangkan bagi pembaca, akan tetapi bagi saya apapun penilaian orang terhadap pendapat saya, maka itu saya anggap rahmat.

Singkil merupakan kabupaten yang masih baru dan terletak di paling ujung juga perbatasan antara Aceh dan Sumut, sehingga di sini sering terjadi pertikaian berbau SARA. Pertiakaian itu jika kita perhatikan dengan cara seksama, bukan semata-mata karena persoalan agama tapi ada kepentingan-kepentingan para pelaku politik dan ekonomi untuk menggiring ke arah SARA, yang pada akhirnya ada pihak yang diuntungkan. Tapi yang kita sayangkan umat muslim yang jadi korban seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Ironisnya persoalan itu sampai saat ini belum selesai. Nah, yang menjadi pertanyaannya siapa yang bermain? Jawabannya ada pada masyarakat Singkil.

Terlepas dari persoalan di atas, mari kita melihat Singkil masa lalu yang mampu membuat Aceh dikenal dan terkenal. Baik itu di masa Sultan Iskandar Muda maunpun di masa para sultanah. Ketika itu Aceh sangat disegani dan ditakuti oleh bangsa asing.

Namun Aceh mengalami kemunduran yang luar biasa ketika tampuk kekuasaan dipegang oleh Iskandar Tsani, pengganti Sultan Iskandar Muda. Kondisi ini juga disebabkan karena fitnah Nuruddin Ar Raniri yang membuat pengikut Hamzah Fansuri diburu dan dibunuh. Ini merupakan sejarah pahit yang dirasakan oleh bangsa Aceh ketika itu walaupun pada akhirnya Nuruddin Ar Raniri harus hengkang dari bumi Aceh. Dia kalah berdebat dengan murid Hamzah Fansuri yang baru pulang dari Mekkah.

Peristiwa tersebut berdampak kepada hubungan antara penguasa dengan rakyat yang tidak lagi harmonis. Antara rakyat sesama rakyat tidak lagi akur sehingga boleh dikatakan Aceh ketika itu tidak nyaman. Akan tetapi, kejadian itu tidak dibiarkan oleh Syech Abdurrauf As Singkily yang ketika itu menimba ilmu di Mekkah. Walau bagaimana pun, beliau punya tanggung jawab menyelamatkan Aceh dari kehancuran. 

Alhasil beliau mampu menyelesaikan persoalan, menyatukan antara penguasa dengan rakyat dan antara rakyat dengan ulama. Juga antara rakyat dengan rakyat. Jika kita melihat peran dari dua ulama sufi tersebut yang telah mengangkat dan mengharumkan nama Aceh, apakah ada timbul di benak kita untuk mengangkat persoalan Singkil yang telah diinjak-injak oleh pelaku bisnis dan politisi busuk? Apakah kita tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa sejarah yang kita bangga-banggakan selama ini tidak lepas dari peran dua ulama sufi tersebut? Atau kita memandang Singkil itu remeh karena mereka tidak bisa berbahasa Aceh?

Jika bahasa yang menjadi patokan, maka kenapa kita selalu mangatakan “ADAT BAK POE TEUMEUREUHOM HUKOM BAK SYIAH KUALA, QANUN BAK PUTROE PHANG REUSAM BAK BINTARA”

Saya masih ingat pesan almarhum Abu Syech Kadir anak dari almarhum Abu Jailani Darussa'adah. Beliau sosok yang paling setia terhadap perjuangan. Setiap kali saya bertemu, beliau selalu bertanya, “kiban cara tanyoe di Singkil, kiban perjuangan di Singkil, bek biyeu cara tanyoe di Singkil nyan tulong peurunoe peukara perjuangan meuhan hana hase.”

Begitulah amanah seorang ulama yang tahu akan sebuah perjuangan, sehingga saran dari almarhum memotivasi saya untuk terjun ke Singkil dan membentuk Tim Wareeh Mualem. Dan insya Allah, selama pergerakan Tim Wareeh Mualem sudah tujuh orang yang dimuallafkan di Aceh Singkil. Waullahu'alam bissawab.[]

Penulis adalah Syahrial yang menjabat Ketua Tim Korwil Wareh Mualem

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar