Singkil yang tersingkir. Pernyataan ini mungkin sangat tidak menyenangkan bagi pembaca, akan tetapi bagi saya apapun penilaian orang terhadap pendapat saya, maka itu saya anggap rahmat.
Singkil merupakan kabupaten yang masih baru dan terletak di paling ujung juga perbatasan antara Aceh dan Sumut, sehingga di sini sering terjadi pertikaian berbau SARA. Pertiakaian itu jika kita perhatikan dengan cara seksama, bukan semata-mata karena persoalan agama tapi ada kepentingan-kepentingan para pelaku politik dan ekonomi untuk menggiring ke arah SARA, yang pada akhirnya ada pihak yang diuntungkan. Tapi yang kita sayangkan umat muslim yang jadi korban seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Ironisnya persoalan itu sampai saat ini belum selesai. Nah, yang menjadi pertanyaannya siapa yang bermain? Jawabannya ada pada masyarakat Singkil.
Terlepas dari persoalan di atas, mari kita melihat Singkil masa lalu yang mampu membuat Aceh dikenal dan terkenal. Baik itu di masa Sultan Iskandar Muda maunpun di masa para sultanah. Ketika itu Aceh sangat disegani dan ditakuti oleh bangsa asing.
Namun Aceh mengalami kemunduran yang luar biasa ketika tampuk kekuasaan dipegang oleh Iskandar Tsani, pengganti Sultan Iskandar Muda. Kondisi ini juga disebabkan karena fitnah Nuruddin Ar Raniri yang membuat pengikut Hamzah Fansuri diburu dan dibunuh. Ini merupakan sejarah pahit yang dirasakan oleh bangsa Aceh ketika itu walaupun pada akhirnya Nuruddin Ar Raniri harus hengkang dari bumi Aceh. Dia kalah berdebat dengan murid Hamzah Fansuri yang baru pulang dari Mekkah.
Peristiwa tersebut berdampak kepada hubungan antara penguasa dengan rakyat yang tidak lagi harmonis. Antara rakyat sesama rakyat tidak lagi akur sehingga boleh dikatakan Aceh ketika itu tidak nyaman. Akan tetapi, kejadian itu tidak dibiarkan oleh Syech Abdurrauf As Singkily yang ketika itu menimba ilmu di Mekkah. Walau bagaimana pun, beliau punya tanggung jawab menyelamatkan Aceh dari kehancuran.